Jumat, 30 Mei 2008

Kamis, 29 Mei 2008

“Sistem Kepercayaan Suku Sawu”

PELAPISAN SOSIAL

Legenda menuturkan, nenek moyang orang Sawu (Sabu) datang dari seberang yang disebut Bou dakka ti dara dahi, agati kolo rai ahhu rai panr hu ude kolo robo. Artinya, orang yang datang dari laut, dari tempat jauh sekali, lalu bermukim di pulau Sawu (Sabu). Orang pertama adalah Kika Ga dan kakaknya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu) yang ada sekarang. Nama Rai Hawu atau pulau Sawu (Sabu) berasal dari nama Hawu Ga, salah satu leluhur mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat suku Sawu (Sabu) hidup dalam kekerabatan keluarga batih (Ayah, ibu dan anak) disebut Hewue dara ammu.

SISTEM KEPERCAYAAN

Masyarakat Sawu (Sabu) menganut agama asli jingitiu sebelum agama Kristen. Kini 80 % masyarakat Sabu beragama Kristen Protestan. Walaupun begitu, pola pikir mereka masih didukung jingitu. Norma kepercayaan mereka masih tetap berlaku dengan kelender adat yang menentukan saat menanam dan upacara lainnya.

Norma kepercayaan asli masih menerapkan ketentuan hidup adat atau uku, yang konon dipercayai mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka. Semua yang ada dibumi ini Rai Wawa (tanah bawah) berasal dari Deo Ama atau Deo moro dee penyi (dewa mengumpulkan membentuk mancipta). Deo Ama sangat dihormati sekaligus ditakuti, penuh misteri. Menurut kepercayaan itu dibawah Deo Ama terdapat berbagai roh yang mengatur kegiatan musim seperti kemarau oleh Pulodo Wadu, musim hujan oleh Deo Rai.

Pembersihan setelah ada pelanggaran harus dilakukan melalui Ruwe, sementara Deo Heleo merupakan dewa pengawas supervisi. Upacara adat yang dilakukan harus oleh deo Pahami, orang yang dilantik dan diurapi. Upacara dilakukan dengan sajian pemotongan hewan besar. Kegiatan setiap upacara berpusat pada pokok kehidupan yakni pertanian, peternakan dan penggarapan laut. Karena itu selalu ada dewa atau tokoh gaib untuk semua kegiatan, termasuk menyadap nira. Kegiatan pada musim hujan berfungsi pada tokoh dewa wanita “Putri Agung”, Banni Ae, disamping dewa pemberi kesuburan dan kehijauan Deo manguru. Karena sangat bergantung pada iklim maka mereka memiliki tiga mahluk gaib yakni liru balla (langit), rai balla (bumi) dan dahi balla (laut). Masyarakat Sawu (Sabu) juga memiliki pembawa hujan yaitu angin Barat : wa lole, Selatan : lou lole dari Timur: dimu lole. Begitu banyak dewa atau tokoh gaib sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti petir dan awan. Begitu juga pada usaha penyadapan nira, ada dewa mayang, dewa penjaga wadah penampung (haik) malah sampai haba hawu dan jiwa hode yang menjaga kayu bakar agar cukup untuk memasak gula Sabu.

Kampung masyarakat Sabu memiliki Uli rae, penjaga kampung, kemudi kampung bagian dalam gerbang Timur (maki rae) disebelahnya, serta aji rae dan tiba rae, (penangkis kampung) sama-sama melindungi kampung.

Oleh karena itu setiap rumah dibangun harus dengan upacara untuk memberi semangat atau hamanga dengan ungkapan wie we worara webahi (jadikanlah seperti tembaga besi). Dalam setiap rumah diusahakan tempat upacara yang dilakukan sesuai musim dan kebutuhan, karena semua warga rumah yang sudah meninggal menjadi deo ama deo apu (dewa bapak dewa leluhur) diundang makan sesajen. Demikian juga terhadap ternak, selalu ada dewa penjaga, disebut deo pada untuk kambing serta dewa mone bala untuk gembalanya. Tetapi selalu ada saja lawannya. Karena itu, ada dewa perusak yang kebetulan tinggal dilat yakni wango dan merupakan asal dari segala macam penyakit. Hama tanaman, angin ribut dan segala bencana.

Karena itu, kepadanya harus dibuat upacara khusus untuk mengembalikannya ke laut supaya masyarakat terhindar dari berbagai bencana walaupun ada kepercayaan bahwa sebagai musibah itu merupakan kesalahan manusia sendiri yang lalai membuat upacara adat. Umpamanya jika tidak membuat upacara untuk sang banni ae, maka sang putri ini akan memeras payudaranya yang menimpa manusia menimbulkan penyakit cacar.

UPACARA KEAGAMAAN

Di pulau Sawu (Sabu) terdapat beberapa upacara kematian yakni upacara kematian Dewan Mone Ama, upacara kematian orang mati kecelakaan ini diadakan pesta serta tarian Lido puru Rai serta makan-makan sejumlah hewan yang dipotong. Pada upacara kematian Dewan Mone Ama, upacaranya tidak sama dengan orang biasa. Ujung jari tangan, kaki dan tidak dipotong dan dikuburkan tersendiri oleh penggantinya tanpa diketahui seseorang. Lobang kubur berbentuk bulat, mayat dikubur dalam posisi jongkok dan di atas kepalanya ditutup gong. Mayat orang yang mati karena kecelakaan, dikuburkan di luar rumah dan bentuk kuburannya persegi panjang. Upacaranya disebut Rue di mana pada upacara ini dipotong 7 ekor hewan antara lain babi, kambing, ayam, anjing dan sebagainya, sedangkan pada upacara kematian yang biasa, mayat dibungkus dengan selimut adat dan dikuburkan dalam posisi jongkok dengan dibekali bahan makanan, sirih dan pinang. Di atas kuburannya dipotong hewan kecil misalnya seekor kutu babi, sebagai tambahan bekal si mati.

MENCARI CORAK ASLI KEBUDAYAAN KRISTEN DI INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Suatu fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini dikarenakan adanya kecenderungan orang Kristen berlaku seperti kebarat-baratan sedangkan Islam manjadi kearab-araban. Apakah tidak ada suatu budaya Indonesia yang khas? Sehingga kita harus mengikutinya alur budaya orang lain?[1], hal inilah yang menyebabkan pentingnya mencari identitas diri dan pentingnya menjadi diri sendiri sangat diperlukan, semuanya ini harus timbul atas dasar rasa nasionalisme[2] yang tinggi. Oleh beberapa orang mulai didengungkan kembali.[3] Seperti apa yang dikatakan oleh pendiri Negara kita Ir. Soekarno dalam pidatonya mengatakan bahwa “Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri.” Mengutip apa yang menjadi pendahuluan dari William Fore dalam bukunya mengatakan bahwa upaya mencari tahu makna merupakan inti kehidupan manusia. Lanjut katanya hal tersebut tidak cukup hanya dengan bekerja dan membina suatu keluarga. Kita sungguh-sungguh perlu memastikan bahwa usaha-usaha kita layak-bahwa hidup kita mempunyai makna.[4]

Dalam kesempatan ini penulis ingin membahas tentang “Arti Kebudayaan Kristen Serta Mencari Corak Asli Budaya Kristen IndonesiaUntuk itu diharapkan setelah membuat makalah ini dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang konsep budaya Kristen serta mencari apa corak budaya Kristen di Indonesia.

BAB II

ARTI KEBUDAYAAN KRISTEN

Beberapa Definisi Kebudayaan

Sebelum lebih jauh membahas soal kebudayaan Kristen, terlebih dahulu pentingnya mendefinisikan arti kebudayaan itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Budaya adalah 1) pikiran; akal budi. 2) adat istiadat: 3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradap, maju) 4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Sedangkan kebudayaan didefinisikan 1) hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat-istiadat; 2) keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalaman dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.[5]

Kroeber dan Kluckon pernah mengumpulkan sekitar 160 definisi kebudayaan pada tahun 60-an di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut [6]:

1. Kebudayaan merupakan sistem terintegrasi dari ide-ide, perasaan, nilai-nilai, assosiasi, pola-pola tingkah laku yang dipelajari dan hasil karya yang khas bagi suatu masyarakat (Hiebert, Cultural Anthropology, 1983:25)

2. Kebudayaan merupakan suatu pandangan hidup (a way of life); suatu rencana total untuk hidup (a total plan for living); terorganisasi secara fungsional ke dalam suatu sistem (functionally organized into a system); didapat melalui belajar belajar (acquired though learning); suatu pandangan hidup suatu kelompok masyarakat bukan dari seseorang (Luzbetak, The Church And Cultures, 1970:60)

3. Kebudayaan adalah keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang diatur oleh tata kelakuan, yang harus didapatnya dengan belajar, dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, 1974:79)

Selanjutnya dapat juga dilihat beberapa pengertian kebudayaan yang ditulis oleh beberapa pakar dalam ilmu Antropologi diantaranya Suwardi Endraswara mengatakan bahwa “Budaya adalah “sesuatu” yang hidup, berkembang, dan bergerak menuju titik tertentu.”[7] Pengertian lain yang dikemukakan oleh Dr. Sumarsono & Paina Partna mendefinisikan “Kebudayaan dalam arti luas bisa mencakup hal-hal seperti kebiasaan, adat, hukum, nilai, lembaga, sosial, religi, teknologi, bahasa.”[8]

Dari beberapa definisi kebudayaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan memiliki dimensi material dan non-material. Karena menyangkut manusia itu sendiri, perlengkapan hidupnya, sistem kemasyarakatan, serta religi[9] Ada pula aspek kognitif (pemikiran, ide-ide, dan sistem pengetahuan),[10] aspek afektif (nilai seni dan kepribadian suku) dan aspek evaluatif (menyangkut masalah tata nilai dan sikap mental, adat istiadat). Semua unsur di atas saling berkaitan menjadi suatu sistem yang terintegrasi.[11]

Selain itu setiap kebudayaan adalah khas bagi masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Ini terjadi karena kebudayaan itu diperoleh dan diturunkan ke generasi selanjutnya lewaat belajar atau proses sosialisasi.[12]

Definisi Kebudayaan Kristen

Setelah memperoleh definisi kebudayana secara umum, maka dapat diperoleh definisi kebudayaan Kristen secara khusus. Jika definisi kebudayaan menurut Paul Hiebert adalah sistem terintegrasi dari ide-ide, perasaan, nilai-nilai, assosiasi, pola-pola tingkah laku yang dipelajari dan hasil karya yang khas bagi suatu masyarakat (Hiebert, Cultural Anthropology, 1983:25), maka dapat disimpulkan kebudayaan Kristen adalah sistem terintegrasi dari ide-ide, perasaan, nilai-nilai yang terkandung dalam pokok iman kristiani, assosiasi atau pergaulan, pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhamkan Roh Kudus pada manusia, yang menjadi kekhasan bagi kekristenan.

Orang-orang Kristen merupakan bagian dari tradisi Kristen dan bahwa tradisi itu berasal dari Kitab Suci (Alkitab). Alkitab yang kita percaya sebagai Firman Allah selalu ditafsirkan dan dipahami dalam kebudayaan-kebudayaan Kristen pada waktu dan tempat yang berbeda,[13]oleh karenanya masalah hidup manusia tidak diluar situasi-situasi lingkungan dimana manusia ditempatkan Allah. Untuk itulah tugas kita adalah mengidentifikasi penyebab-penyebab masalah dan mengubah apa yang salah.

Contoh-contoh budaya Kristen yang bisa dilihat sekarang ini[14] adalah Doktrin Allah, Alkitab sebagai Firman Allah, Malaikat, Iblis, Manusia, Dosa, Yesus Kristus, Keselamatan, Roh Kudus, Gereja, Akhir Zaman dan lain sebagainya[15]

Budaya Kristen juga menyangkut sakramen-sakramen dalam gereja yang masih dijalankan oleh gereja-gereja,[16] karena merupakan nilai-nilai yang diberikan oleh Yesus. Selain itu juga masih banyak budaya Kristen yang sangat melekat dalam diri orang Kristen yaitu berkumpul dan berdoa bersama[17] dan lain sebagainya.

BAB III

CORAK BUDAYA KRISTEN DI INDONESIA

Seperti yang dijelaskan pada pendahuluan tulisan ini, bahwa yang menjadi permasalahannya adalah apa corak asli budaya Kristen di Indonesia? Agar tidak dikatakan sebagai orang Kristen menjadi kebarat-baratan.

Sebelum agama Kristen mulai masuk ke Indonesia, agama negeri ini sudah melalui sejarah yang panjang dan berbeelit-belit. Agama Indonesia asli dibawa –serta oleh suku-suku yang pada zaman dahulu kala memasuki Indonesia. Yang biasa disebut “Agama Suku”.[18] Sebenarnya, masing-masing suku mempunyai agamanya sendiri.

Bagaimana halnya dengan orang-orang Kristen di Indonesia? Memang tidak dapat disangkal bahwa kekristenan yang ada sekarang ini adalah merupakan produk yang lahir dari budaya barat serta pencampuran antara kebudayaan yang ada di Indonesia sendiri. Untuk itulah bagaimana mencari corak budaya Kristen di Indonesia?

Martin Lukito Sinaga dalam tulisannya “Mencari Corak Lokal Kekristen di Indonesia[19] Paragraf pertama dalam tulisannya memuat apakah cara yang paling baik untuk menjelaskan dan, jika mungkin merefleksikan secara teologis nasib Kekristenan yang masih “muda” di Indonesia yang tumbuh di tanah agama-agama suku (“animisme”)? Dan, ketika kita mengetahui bahwa sejarah Kekristenan di Indonesia merupakan bagian dan rangkaian kolonisasi Barat yang menghasilkan pandangan negatif terhadap Islam, identitas macam apakah yang dapat diharapkan dari kekristenan seperti itu?[20]

Gambaran umum komunitas Kristen yang tuimbuh di ruang lokal/suku itu cukup buram.[21] Perlu diperjelas apa yang dimaksud dengan corak lokal atau agama suku yang dimaksud agar diperoleh pengertian yang jelas tentang komunitas Kristen yang ada di Indonesia. Dalam memahami hal ini Martin Lukito membagi dalam dua tingkatan[22] Pertama, suatu agama yang sangat prakmatik dan mengandung makna magis, ditandai dengan ritus-ritus penyembuhan, membersihkan diri, memberkati, dan perolehan sebuah fetish (jimat atau benda keramat) untuk ekselamatan dan keberuntungan material. Kedua, corak yang juga nampak dalam sistem yang rumit; sesuatu seperti monisme[23] yang di dalamnya keselarasan masyarakat menjadi taruhannya, sehingga memiliki struktur hirarki kekuasaan yang ruwet.



[1] Studi Teologi Agama-agama oleh Matthew Tampi, ini merupakan pertanyaan yang dilontarkannya.

[2] Paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hal 774.

[3] Contohnya para Teolog Kristen Indonesia yang mencoba mengkontekstualisasikan Injil kedalam budaya Asia khususnya Indonesia beberapa diantaranya yaitu Eka Darmaputera (Menuju Teologi yang Kontekstual), H.L. Sapulete (Mencari Mata Rantai yang Hilang), A.A Yewangoe (Menurut Kamu Siapakah Aku?) dan masih banyak lagi teolog-teolog Kristen lainnya dan juga beberapa dari orang Muslim sendiri, yang mencoba mencari suatu pendekatan untuk mencari suatu corak yag khas bagi orang Indonesia sendiri.

[4] William Fore, Para Pembuat Mitos Injil, Kebudayaan dan Media (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2002), hlm. 1.

[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hal 169-170.

[6] Dikutip dari majalah “Sahabat Gembala” berjudul Kebudayaan dan Misi (Mei, 1986) hlm 4-10, 36-37. Ditulis oleh Drs. B.S. Sidjabat, M.Th, dan dikutip ke dalam modul kuliah Kontekstualisasi oleh Jaya Muller, hal. 1.

[7] S. Endraswara “Metodologi Penelitian Kebudayaan” (1st Edit), Gadja Mada Univ. Press, Yogyakarta, 2003, hal.1 yang dikutip oleh Matthew T. dalam silabus perkuliahan Misi Antropologi pada Institut Teologi Indonesia (INTI), hal.26.

[8] Sumarsono & P.Paina hal.13, yang dikutip oleh Matthew T. dalam silabus perkuliahan Misi Antropologi pada Institut Teologi Indonesia (INTI), hal.26.

[9] Yang semuanya itu merupakan keseluruhan unsur yang terdapat dalam suatu kebudayaan (Koentjaraningrat)

[10] Lih. pengertian kebudayaan, (P. Hiebert).

[11] Jaya Muller, Silabus Kontekstualisasi, hal.1.

[12] Ibid, hal. 1.

[13] Contohnya Surat Paulus kepada Jemaat-jemaat di Roma, Korintus, Galatia, serta penatua-penatua seperti Timotius dan surat lainnya.

[14] Tentunya tidak terlepas dari Budaya yang berlaku di Israel serta hasil interpretasi dari Bapa-bapa Gereja serta teolog pendahulu kita.

[15] Lih. Buku Sistematika Teologi

[16] Saya mencontohkan sakramen yang dilakukan oleh Gereja Proterstan yaitu Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus serta ada Pernikahan Kudus.

[17] Hal ini pun telah ada pada waktu terbetuknya gereja mula-mula yang dimulai dari Yerusalem (Kisah para Rasul 2).

[18] Th. van den End, Ragi Carita I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hal 13.

[19] Tulisan ini adalah terjemahan dan perluasan dari makalah berjudul “An Identity at the Crossroad: Indonesian Christianity in the mids of Local Spirituality”, disampaikan pada Konsultasi Teologi (bertemakan Christian and Religious Plurality in Historical and Global Perspective) di Fuller Theological Seminary, Pesadena, Los Angeles (Amerika Serikat),. 25-27 April 2003. Penterjemah naskah ini adalah Naomi Arijanto dan Martin L. Sinaga. Dikuti dari Jurnal Proklamasi hal.

[20] Martin L. Sinaga, Mencari Corak Lokal Kekristenan di Indonesia, (STT Jakarta: Jurnal Penuntun vol. ), hal 22.

[21] Ibid. hal 23. Buram yang dimaksudkan oleh beliau adalah terutama karena wajah kekerasanya. Beliau memcontohkan Kalimantan, begitu banyak kekerasan yang terjadi di antara orang-orang Dayak (yang juga diantaranya beragama Kristen) dan orang-orang Islam Madura. Banyak orang Dayak telah menjadi Kristen, dan hanya menyisakan sedikit yang masih memelihara ritual nenek moyang (agama Keharingan) Melihat hal ini, gereja di Kalimantan terkejut, dan pada umumnya terdiam.

[22] Ibid, hal 25.

[23] Pandangan bahwa semesta itu merupakan satu satuan tunggal; pandangan bahwa materi dan alam pikiran adalah satu. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2003), hal. 752, cf Segala sesuatu yang realita adalah satu. Matthew T. Silabus Mata Kuliah Teeologi Agam-agama,,hal. 25 (13 Sept 2006). Monism, the belief that all reality is one and any impression that one sphere of being can be distinguished from another is unreal, or illusion.

Teologi Fungsional – Teologi Kontekstual


Karangan ini ditulis oleh J.B. Banawiratma. Latar belakang tulisan ini adalah melihat kehidupan orang Asia sudah tidak cocok lagi mengambil alih teologi Barat begitu saja atau berteologi secara Barat karena tidaklah sesuai lagi dengan penghayatan iman Kristen di Asia. Impor teologi-jadi dari Barat tidak lagi memenuhi kebutuhan penghayatan iman Gereja-gereja di Asia. Atau dengan kata lain, teologi tidak fungsional lagi. Itu berarti teologi Barat tidak mempunyai arti.

Istilah “teologi fungsional” mungkin akan menimbulkan pertanyaan, adakah teologi yang tidak fungsional. Menurut Banawiratma memang ada, itulah teologi yang tidak mendukung penghayatan iman kristiani, melainkan meracuni penghayatan Injil Yesus Kristus. penggunaan istilah “teologi fungsional” menunjukan suatu usaha berteologi yang secara eksplisit berpangkal pada pengalaman manusiawi dan pengalaman iman.

Tiga alasan mengapa teologi memerlukan usaha eksplisit untuk fungsionalisasi. Pertama, penghayatan iman kristiani yang mendasar pada Injil Yesus Kristus selalu terjadi pada situasi, lingkungan, konteks atau tata budaya tertentu dan konkret. Kedua, konteks konkret atau tata budaya tersebut bukanlah hanya “objek” yang disapa Injil, melainkan “subjek” yang aktif. Ketiga, menjadi beriman berarti dipanggil untuk menjadi ciptaan baru.

Menurut beliau, dalam proses berteologi terdapat kesulitan-kesulitan yang akan dialami. Berteologi berarti masuk dalam suatu proses refleksi tanpa satu rumus pasti. Dalam menangkap pengalaman umat tidak mudah, begitu pula merumuskan pengalaman tersebut secara tepat. Yang bagaimanapun juga, hubungan eksplisit antara refleksi teologis dan pengalaman hidup nyata memperlihatkan dengan jelas ciri fungsional kegiatan berteologi.

Menuju Teologi Kontekstual di Indonesia

Karangan ini merupakan tulisan dari Alm. Eka Darmaputera. Latar belakang tulisan ini diawali oleh kesadarannya bahwa pemimpin-pemimpin jemaat dari gereja-gereja “arus tengah” (main-stream) di Indonesia, yang dewasa ini berada dalam keadaan cemas dan resah dan tidak sedikit yang mulai kehilangan percaya diri. Hal tersebut dikarenakan dalam dasawarsa terakhir ini, amat terasa ada semacam “arus balik” yang kian lama kian menguat, mendalam dan meluas. Mula-mula dalam bentuk gerakan Pantekosta Baru, atau yang lebih dikenal dengan gerakan Karismatik. Dan kemudian, gerakan-gerakan yang menamakan diri “Injili” yang dengan sistematis, konsisten dan militan mempropagandakan konservatisme serta fundamentalisme.

Gejala-gejala tersebut menurut beliau haruslah dilihat sebagai sesuatu yang serius, terutama karena gejala tersebut membuktikan bahwa betapa rapuhnya dan betapa tipisnya penghayatan serta pemahaman teologis warga jemaat pada umumnya. Dan itu menurutnya adalah tidak lain disebabkan karena gagalnya pembinaan gereja selama ini.

Hal ini perlu adanya suatu kesadaran bahwa warga jemaat itu mempunyai kebutuhan. Mereka mungkin tidak dapat merumuskan, tetapi mereka merasakannya. Akan kebutuhan itu rupanya gereja tidak terlalu tanggap, sehingga mau tidak mau warga gereja mencari suatu wadah yang dapat memenuhi kebutuhan mereka tersebut. Kebutuhan mereka tersebut adalah mencari suatu pegangan yang jelas untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari, kebutuhan mencari suatu jawaban yang jelas bagi pertanyaan praktis mereka sehari-hari, kebutuhan dalam mencari petunjuk yang jelas mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam hidup mereka sehari-hari. Juga sebagai suatu suasana yang membantu menguatkan mereka dalam pergumulan hidup sehari-hari.

Gerakan Pentakosta Baru atau Kharismatik dan fundamentalisme memang secara gamblang menunjukkan kemiskinan spiritualitas dalam kehidupan jemaat-jemaat pada umumnya. Tetapi menurut beliau hal ini bukan merupakan alternatif terbaik terhadap spiritualitas yang didambakan dan dibutuhkan. Mengapa ia mengatakan demikian karena ada alasan utama, yaitu kedua gerakan tersebut membuat orang berorientasi pada diri sendiri. Gerakan pertama cenderung membuat orang asik dengan kenikmatan rohani diri sendiri, sedangkan yang satunya lagi cenderung membuat orang menjadi picik karena terlampau mengagungkan kebenaran dan keunggulan kelompok sendiri.

Alternatif yang beliau tawarkan dalam memenuhi kebutuhan jemaat masa kini adalah dengan “teologi kontekstual” yang dimaksudkan oleh beliau teologi kontekstual ada teologi itu sendiri. Artinya, teologi hanya dapat disebut sebagai teologi apabila ia benar-benar kontekstual. Dan untuk mengukur keabsahan dari teologi itu sendiri menurut beliau terdapat dua patron yaitu pertama “ortodoksi” dan kedua “relevan”. Ortodoksi adalah menilai apakah hasil pergumulan masih dapat disebut “kristen”. Relevan adalah untuk menilai apakah hasil pergumulan itu cukup “fungsional” bagi konteks Indonesia saat ini dan juga bagi masa yang akan datang.


Refleksi Tentang Dosa

Allah menghendaki semua orang di muka bumi untuk diselamatkan. Keselamatan tersebut telah dikerjakan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai anak-Nya yang Tunggal. Dalam konteks ini terdapat suatu pemahaman teologis yang penting dan sangat mendasar, bahwa Allah sendirilah yang telah berinkarnasi menjadi manusia untuk melaksanakan karya penebusan dosa.

Dengan demikian, jelaslah siapa yang menjadi objek dari tujuan inkarnasi-Nya, yaitu manusia dan pelaku inkarnasi adalah Allah sendiri. Inilah yang dipahami dalam terang Iman Kristen.

Percaya akan kebenaran tersebut, maka inti dari berita Injil adalah bahwa Kristus Yesus telah mati demi dosa-dosa manusia, Ia telah disalibkan, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga, menurut Kitab Suci harus disampaikan kepada semua orang tanpa terkecuali. Tentang hal pokok ini, ternyata telah menimbulkan kesulitan yang cukup berarti dalam upaya penjangkauan orang berdosa khususnya bagi penganut agama Muslim. Dalam frame teologi Islam, hal ini nampak seperti sebuah pemahaman yang mengada-ada.

Akar masalahnya adalah perbedaan cara pandang Kristen dan Islam mengenai kodrat manusia dalam dosa. Bagi Islam, nabi tidaklah mungkin melakukan dosa yang fatal akibatnya sehingga berdampak pada penghukuman kekal. Dosa yang dilakukan oleh Adam hanya dianggap sebagai suatu kealpaan saja. Artinya dosa tidak memiliki kuasa yang terlalu kuat untuk mempengaruhi keselamatan manusia. Penafsirannya,dosa bukanlah sebuah kasus yag serius.

Keberdosaan Adam bukan suatu kejatuhan. Hal itu tidak lebih dari sebuah kekhilafan semata. Oleh karena itu, pada dasarnya manusia dipandang sebagai makhluk yang baik. Islam menempatkan manusia pada harapan yang optimistic. Dengan demikian, maka tidak heran jika penganut agama Islam dengan setia melakukan perbuatan-perbuatan yang “baik/benar” untuk memperbaiki diri. Mereka tidak membutuhkan usaha apapun dari luar untuk membebaskan diri dari belenggu dosa. Manusia dinilai masih mampu untuk mengatasi masalah dosa dengan sendiri. Ada harapan yang positif terhadap manusia.

Pemahaman teologi yang seperti ini turut menentukan juga bagaimana selanjutnya upaya untuk menyelesaikan dosa tersebut. Sangat berlebihan jika Allah yang Mahakuasa itu harus menjelma menjadi manusia untuk menyelesaikan dosa tersebut. Artinya peristiwa Inkarnasi tidak perlu terjadi.

Menyikapi pemahaman yang demikian, demi kepentingan Injil maka menjadi tanggung jawab orang percaya untuk memberikan suatu kejelasan yang dapat diterima oleh pihak Muslim. Untuk hal tersebut kelompok kami memberikan beberapa tanggapan sebagai berikut;

- Dosa Adam merupakan suatu awal dosa manusia yang benar-benar serius. Sebab, pelanggaran yang dilakukan oleh Adam, bukan hanya sekadar sebuah kealpaan, melainkan sebagai suatu pemberontakkan terhadap Allah dengan motivasi tertentu.

- Doktin Islam yang demikian sepertinya kurang dipertanggungjawabkan secara Qur’ani. Mengapa? Sebenarnya Qur’an sendiri dalam banyak teks/ayat-ayat tertentu memberikan petunjuk bahwa dosa manusia adalah benar-benar serius sehingga semestinya membutuhkan jalan keluar yang sungguh-sungguh. Jadi sesungguhnya Qur’an pun memberikan konsep tentang dosa yang dapat sejalan dengan konsep Alkitabiah. Mungkin juga dapat dikatakan sepakat dalam hal penyelesain dosa.

- Kelompok kami memandang adanya persamaan cara pandang Qur’an dan Alkitab tentang pokok dosa, maka untuk menjelaskan Injil/berita keselamatan, dapat tetap menggunakan Alkitab, namun sebijaksana mungkin. Maksudnya perlu untuk membedakan kepada siapa berita Injil tersebut disampaikan. Kalau pendengarnya adalah orang yang terpelajar dapat saja dimulai dengan penjelasan latar belakang yang ada pada persamaan kedua konsep tersebut. Tetapi terhadap masyarakat awam, akan lebih dapat diterima jika menjelaskan akan apa kata Qur’an tentang dosa.

Dalam bukunya yang berjudul Kerinduan Akan Allah Yang Sejati, yang ditulis oleh Don Richardson, memberikan banyak sekali kesaksian tentang pendekatan yang dilakukan oleh para misionaris untuk memenangkan berbagai suku di muka bumi ini. Gambaran yang diperoleh dari esainya yang jelas tersebut, bahwa Injil akan lebih mudah diterima jika diberitakan secara kontekstual. Kesimpulannya adalah bahwa sesungguhnya Allah telah menyiapkan semua suku, kaum, dan kepercayaan, yang ada di muka bumi ini dengan menanamkan suatu kesadaran akan adanya Penguasa mutlak di atas segala-galanya. Kepada Penguasa inilah manusia harus beribadah. Dari pemahaman sederhana yang demikian, maka berita Injil akan lebih mudah dimengerti asalkan dijelaskan secara kontekstual (memakai penggambaran yang telah dimiliki).

Jika penjelasan Don Richardson apabila diaplikasikan dalam konteks Islam - Kristen, maka sebenarnya sangat besar harapan untuk dapat menjangkau umat Muslim untuk mengakui Yesus sebagai Allah yang telah berinkarnasi dan menjadi manusia yang oleh-Nya manusia dapat diselamatkan dari dosa-dosa. Allah telah menyiapkan apa yang ada pada pemahaman dasar agar mereka dapat dibawa kepada keselamatan.

NESTORIANISME DAN RELEVANSINYA BAGI GEREJA DI INDONESIA

A. Lahir dan Berkembangnya Nestorianisme

Lahirnya Nestorianisme erat kaitannya dengan perselisihan di dalam Gereja antara aliran teologi di Antiokhia dan di Alexandria, yakni mengenai hubungan antara tabiat ilahi dan tabiat manusia dalam pribadi Kristus. Gereja Antiokhia yang berakar pada lingkungan Yahudi menekankan keesaan Allah dan kemanusian Kristus. Yesus digambarkan sebagai manusia, tetapi Allah tinggal di dalamnya. Tabiat Ilahi dan tabiat Yesus dianggap terpisah. Sedangkan Gereja Aleksandria yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani menekankan keillahian Kristus. Kristus dipandang sebagi logos yang menjadi manusia. Penyatuan tabiat ilahi dan tabiat manusia dalam pribadi Yesus ditekankan.

Nestorius lahir di Germanaica menjelang akhir abad ke-4. Ia belajar di Antiokhia, mungkin pada Theodorus dari Mopsuestia. Di Antiokhia ia tinggal dalam biara Euprepios. Pada tahun 428 ia diangkat menjadi patriakh Konstantinopel oleh Teodosius II. Ia sangat menentang penyesat. Sehingga ia mengajak kaisar untuk menghapus penyesat-penyesat itu. Ia berkata “Berilah kepadaku, ya kaisar, bumi yang bersih dari penyesat-penyesat dan sebagai gantinya aku memberikan kepadamu sorga. Bantulah aku untuk memerangi penyesat-penyesat dan aku akan membantumu memerangi Persia.”[1]

Ternyata dalam jemaatnya sendiri terjadi perselisihan mengenai gelar Bunda Allah (Theotokos) dan bunda Manusia (Antropotokos) untuk Maria. Terhadap gelar–gelar tersebut Nestorius berpendapat bahwa gelar tersebut mudah menimbulkan salah paham. Bunda Allah akan memancing Jemaat untuk akan mengartikannya menurut bunda-bunda dewa dalam agama kafir, seolah-olah Kristus sebagai Allah, menurut KeallahanNya dari Maria. Menurut Nestorius sebenarnya gelar itu tidak dapat dikenakan kepada Maria, karena Maria tidak mangandung ke-Allah-an, melainkan seorang manusia. Maria hanyalah alat untuk ke-Allah-an.

Nestorius kemudian menciptakan gelar baru bagi Maria yaitu Bunda Kristus (Kristokos) sebab dalam pandangannya, Kristus adalah Allah dan manusia pada saat yang sama [2]. Namun Nestorius tidak berhasil memperdamaikan jemaatnya. Malah ia semakin ditentang oleh Ciryllus uskup Aleksandria yang mempertahankan bahwa kedua tabiat Kristus itu bercampur sedemikian rupa , sehingga menjadi satu tabiat saja. Cyrillus juga mempertahankan penggunaan gelar Theotokos bagi Maria. Pertikaian ini bertambah hangat dan keras karena itu maka kaisar memanggil konsili yang bersidang di Efesus[3]. Dalam konsili ini ajaran Nestorius dikutuk oleh pengikut Cyrillus, demikian pula sebaliknnya sehingga perdamaian tidak dapat dicapai.

Pada tahun 448 perselisihan ini mulai berkobar lagi, tatkala seorang sarjana teologi yang bernama Eutyches mengajarkan bahwa sebenarnya Kristus hanya bertabiat satu saja. Kemanusian Kristus dipengaruhi oleh keillahianNya semata, sehingga kemanusiaan itu kelihatanya saja menyerupai kemanusiaan kita. Oleh karena itu diadakan konsili Calsedon (451)[4].

Dalam konsili ini diputuskan beberapa hal sebagai berikut[5]:

1. Mengenai kemanusiaan dan keillahian Kristus:

“… Tuhan kita Yesus Kristus . . . adalah Allah sejati dan manusia sejati . . . Ia sehakekat (homoousias) dengan Sang Bapa sebagai Allah, sehakekat dengan kita sebagai manusia, Ia sama seperti kita di dalam segala sesuatu kecuali dosa . . .”

2. Mengenai istilah diperanakan dan tujuan inkarnasi Yesus:

“Sebagai Allah Ia diperanakan dari Bapa sebelum segala zaman . . . tetapi demi keselamatan kita diperanakan dari Anak dara Maria, sang Teotokos.”

3. Mengenai kesatuan kedua kodrat atau tabiat:

“(Ia) diperkenalkan kepada kita dalam dua kodrat atau tabiat (yang berbeda), keduanya tidak bercampur, dan tidak berubah (melawan Eutyches), tidak terbagi dan tidak terpisah (melawan Nestorius), perbedaan tabiat tetap terpelihara, tetapi keduanya bersatu dalam satu oknum dan sehakekat . . . tidak terpisah atau terbagi menjadi dua oknum . . .”

B. Perkembangan Gereja Nestorian di Asia Barat, Arabia, India, Asia Tenggara

1. Gereja Nestorian di Persia

Perkembangan Gereja di Persia dan keputusan untuk menganut Nestorianisme, samangat dipengaruhi oleh sekolah teologi yang pada tahun 457 didirikan di Nisibis. Tokoh utama sekolah ini adalah Metropolit Bar Sauma dari Nisibis. Di samping mengintroduksikan teologi Nestorian, dia juga ingin mengurangi pengaruh kerahiban dan askese dalam Gereja di Persia. Sejak Afrahat ada pendapat ekstrim bahwa kehidupan Kristen sebenarnya hanya suci, jikalau seorang Kristen hidup tanpa nikah.

Pada sidang sinode di Beth Lapat pada tahun 484, disamping keputusan untuk menganut teologi Nestorian sebagai doktrin resmi juga diambil keputusan agar semua pendeta termasuk para uskup harus menikah. Pengaruh kerahiban dikurangi dan kerahiban diatur secara baru, tugas utama para rahib menjadi pengkhotbah dan pekabar injil. Akibat penolakan askese itu, maka sebagian orang Kristen di Mesopotamia Utara meninggalkan Gereja Nestorian dan menganut Monofisitisme. Fakta ini menjadi penyebab mengapa kemudian Gereja Yakobit dapat menyebarluaskan pengaruhnya ke Persia juga.

Selama beberapa ratus tahun terjadi perlawanan antara hierarkhi dan kerahiban dalam gereja Nestorian. Ini juga menimbulkan perbedaan dalam pemakaain terjemahan Alkitab. Para rahib memakai terjemahan Suriah kuno, yang dipengaruhi oleh Diatessaron , sedangkan para uskup dan pendeta memakai Peshitta. Disamping pelayanan Firman Tuhan banyak rahib juga aktif dalam diakonia, misalnya dirumah sakit.

Gereja Nestorian sejak abad ke-5 tidak lagi dipengaruhi oleh perselisihan gereja-gereja Barat. Tiga teolog yang ditolak oleh Greja Yunani Ortodoks dalam “Perselisihan Tiga Pasal” sangat dihargai oleh Gereja Nestorian, khususnya Theodorus dari Mopsuestina. Gereja Nestorian membentuk dialek Suriah sendiri, yang dimana-mana dia pakai sebagai bahasa liturgi, kecuali bacaan dan nyanyian rohani yang memakai bahasa setempat. Dialek Suriah itu juga ditulis dengan abjad tersendiri. Gereja Nestorian tidak mengenal gambar Kristus yang disalibkan tetapi hanya gambar Kristus yang lain dan “Salib Kemenangan.”

Gereja Nestorian dipimpin oleh Katholikos di Seleukia Ktesifon. Ada dua macam Metropolit di bawah pimpinan Katholikos. Metropolit yang dekat secara geografis berhak untuk memilih patriakh tetapi setiap empat tahun harus mengunjungi Patriakhat. Metropolit yang jauh berhak menabiskan uskup-uskup di dalam daerah wewenangnya tanpa konsultasi dengan Katholikhos. Aturan ini disebabkan masalah praktis, oleh karena kedudukan banyak Metropolit terlalu jauh dari Seleukia – Ktesifon sehingga sulit menjangkaunya.

2. Perluasan Gereja Nestorian di Asia Barat

Pada awal abad kelima sudah ada organisasi Gerejawi di Kerajaan Persia, yaitu Mesopotamia dan Persia. Disamping enam propinsi Gerejawi yang lama di Mesopotamia sudah ada propinsi Gerejawi di Persia. Beth-Madhaye (Media), Margaiana dan Partia. Beberapa keuskupan di kota yang jauh, yang didirikan pada abad V, pada abad VI telah menjadi Metropole, dengan beberapa keuskupan yang baru didirikan yaitu Merw (di Margiana), yang didirikan pada tahun 424, dan menjadi keuskupan agung pada tahun 524; Herat didirikan tahun 424 dan menjadi keuskupan pada 585. Di Afganistan pada abad VI, disamping Herat, beberapa keuskupan juga didirikan[6].

3. Gereja Nestorian di India

Gereja di India pada abad pertengahan menganut Monofisitime dan bergantung pada Gereja Yakobit. Tetapi penulis di Eropa membawa argumentasi yang kuat yang mendukung pendapat bahwa Gereja di India sampai abad XVI adalah sebagian dari Gereja Nestorian. Dalam catatan Komos Indikopleustes, seorang Nestorian dari abad ke-6 di sebutkan bahwa jemaat Kristen di Kalliana, di India Selatan dan di Ceylon, terdiri atas Kristen Nestorian.

Pada abad ke-7 ada jemaat Nestorian dimana-mana di India sebagai “diaspora”. Pada saat itu agama Kristen sudah disebarluaskan keseluruh India. Mungkin ada hubungan langsung lewat darat antara Gereja di Persia dan di India Utara. Hubungan dengan pusat Gereja Nestorian dari India Selatan terjadi melalui lalulintas laut dari Perat de Maisan (Basra).

  1. Gereja Nestorian di Arabia

Di Arabia utara, yaitu disebelah selatan Damsyik, tepatnya di Hauran, dan sebagian di Palestina, orang Kristen Arab menganut nestorianisme[7]. Kerajaan Persia mendirikan kerajaan penyangga di sekirat Al-Hira yaitu kerajaan Lakhmid. Sebagian penduduknya menganut nestorianisme, dan mereka disebut al-Ibad. Di Arabia timur pada zaman itu ada lima keuskupan di bawah metropolit Arabia timur. Dari Arabia timur dibawah ke Arabia Selatan. Sejak terjadi penganiayaan orang Yahudi pada tahun 520-523 yang menyebabkan Yaman kemudian menjadi daerah Etiopia, nestorianisme di ganti dengan monofisitisme. Gereja Nestorian mendapat kesempatan kembali untuk mengitroduksikan diri yaitu pada tahun 597 ketika Persia menaklukan Yaman.

  1. Gereja Nestorian di Asia Tengah

Perluasan agama Kristen di Asia tengah yaitu melalui jalan perdagangan yang disebut jalan sutra. Sehigga kota-kota besar menjadi pusat kekristenan di Asia tengah. Walau demikian, misi Nestorian mencapai suku-suku. Sejak tahun 498, sebagian dari suku Heftalit yang tinggal di hulu sungai Oxus masuk Kristen. Sejak tahun 549, ada keuskupan di antara suku Heftalit. Abad ke-7 suku Sogd di transoxania masuk Kristen[8].

  1. Misi Nestorian mencapai Tiongkok

Masuknya misi nestoerian di Tiongkok dapat diketahui melalui monumen Sian Fu. Kaisar Tai-Tsung pada tahun 638 mengizinkan palayanan penginjilan dalam kekaisarannya dan berdirinya sebuah biara di Sian Fu. Monumen Siang Fu juga berisi tentang ringkasan dogtrin nestorian yang di bawah ke Tiongkok, dogtrin tersebut diantaranya tentang kisah penciptaan dunia oleh Allah, kejatuhan manusia dalam dosa, banyak ajaran sesat, kelahiran Sang Mesias, kenaikan ke sorga, dan tentang memusnahkan kematian.

B. Relevansi Nestorianisme Bagi Gereja-Gereja di Indonesia

Harus diakui bahwa sampai saat ini gereja-gereja di Indonesia belum dapat mandiri secara penuh dalam berteologi. Artinya, dalam menyikapi berbagai persolan teologis di tengah-tengah bangsa yang beragam budaya, gereja nampaknya masih bergantung pada teologi-teologi Barat. Demikain halnya untuk memahami Kristologi, gereja Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari teologi Barat yang telah lama dihidupi. Namun gereja semestinya harus tetap mengambil sikap terhadap Kristologi Nestorianisme. Hal yang penting untuk dipertimbangkan adalah bahwa Nestorianisme sangat ekstrim menekankan pemisahan antara ke-Allah-an dan kemanusiaan Kristus. Dimana Nestorianisme lebih menekankan kemanusiaan Kristus

Jika hal ini diterapkan di Indoneisa maka akan berimbas pada munculnya pengertian baru yang dapat mengaburkan kepercayaan akan penebusan yang dilakukan oleh Allah yang sejati melalui Kristus. Artinya gereja menghadapi masalah tentang pokok yang sentral dalam kekristenan. Dengan demikian paham Kristologi Nestorianisme yang menekankan pemisahan tersebut tidak dapat diterima di Indonesia.

Hal lain yang semestinya digumuli adalah tentang doktrin Kristologinya. Gereja Indonesia tidak dapat memberikan penilaian salah-benarnya teologi Kristologi Nestorianme, karena setiap teologi lahir atas latar belakang sejarah. Demikian untuk gereja di Indonesia, dapat membangun teologi secara kontekstual dengan memperhatikan kebutuhan konteks di Indonesia.

Namun ada hal menarik yang dapat diadopsi dari kelompok ini. Dalam penyebaran misinya, kaum awam dapat memberikan kontribusi yang besar dalam gerakan misi yang dilakukan. Keyakinan yang kuat dari pengikutnya terhadap doktrin, secara aktif telah menyemangati mereka untuk melakukan peginjilan. Jika dilihat bahwa kenyataan yang ada di Indonesia, menyiratkan bahwa warga gereja masih cenderung berlaku pasif terhadap penginjilan. Pola pikir warga Gereja belum berubah, dimana tugas penginjilan di berikan proporsi yang besar hanya kepada para misonaris dan hamba-hamba Tuhan. Artinya belum muncul kesadaran dari dalam diri jemaat untuk memotifasi diri sendiri untuk turut terlibat dalam penginjilan.



[1] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat. Jakarta: BPK Gunung Mulia 2003. p 141.

[2] Ibid. p142

[3] Ibid. p143.

[4] A. Kenneth Curtis,dkk.”100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Gereja” Jakarta: BPK Gunung Mulia p. 33

[5] Jon Culver. “Silabus Sejarah Gereja UmumBandung: Institut Alkitab Tiranus p. 69

[6] Klaus Wetzel. “Kompendium Sejarah Gereja AsiaMalang: Yayasan Penerbit Gandum Mas. p 56.

[7] Ibid. p57

[8] Ibid. p58

Refleksi dari Film “The Mission”





Missi dari Ordo Yesuit yang dibawah oleh Pastor Gabriel pada tahun 1750 ke suku Indian yang terletak pada perbatasan Argentina, Paraguai dan Brazil bukan sekedar pengabaran berita Injil tetapi juga berusaha menata kehidupan yang lebih layak bagi suku Indian yang dianggap bukan manusia tetapi sebagai hewan yang diperjualbelikan oleh orang Portugis dan dijadikan budak.

Bukti nyata yang diberikan oleh Pastor Gabriel dalam pembangunan negeri di mana suku Indian bermukim yaitu terbentuknya daerah pertanian yang berkembang dengan pesat seperti perkebunan pisang yang besar dan subur. Tetapi sayangnya tanah yang digarap tersebut merupakan daerah yang diperebutkan oleh dua negara yang ingin menguasai daerah tersebut yaitu Portugis dan Spanyol.

Perkembangan dari daerah yang menjadi sasaran missi tersebut tidaklah mendapat sambutan baik dari kedua negara yang ingin menguasai daerah tersebut terutama orang Portugis, karena dengan adanya missi dari Yesuit menghambat keinginan mereka untuk menangkap orang-orang Indian tersebut untuk diperjualbelikan menjadi budak. Alasan tersebutlah yang membuat sehingga orang Portugis sangat tidak setuju kalau missi tersebut terus berkembang di daerah itu.

Untuk itulah orang Portugis berusaha menghambat pergerakan missi dengan cara memanfaatkan gereja sebagai badan yang melegitimasi keinginan mereka tersebut, karena dengan mengatasnamakan gereja mau tidak mau missi tersebut terhambat karena mereka terikat oleh sumpah setia mereka yaitu “Ketaatan Terhadap Perintah Gereja.”

Hal ini menimbulkan keresahan dalam diri Pastor Gabriel, sehingga ia mencoba meminta persetujuan dari Paus untuk membantu mereka dalam hal tersebut. akan tetapi respon Paus kuranglah bijaksana dalam memutuskan hal tersebuit, sehingga menimbulkan kurang puas di hati orang missi akan hal tersebut. Maka timbul dua kubu yang mencoba mengatasi masalah tersebut yaitu Mandoza (seorang yang hidupnya menjadi penangkap orang Indian untuk dijadikan budak kemudian bertobat) ingin mengatasinya dengan cara perlawanan bentuk fisik, sedangkan Gabriel berusaha untuk tetap taat tanpa melakukan perlawanan dalam bentuk fisik, yang pada akhirnya kedua orang tersebut memperjuangkan sampai akhir hidup mereka karena cintanya kepada orang Indian yang dianggap oleh orang Portugis sebagai binatang yang dengan mudah ditangkap dan diperjualbelikan.

Karena kasih yang begitu mendalam dari kedua orang tersebut yaitu Pastor Gabriel dan Kapten Mandoza kepada Orang Indian sehingga mereka sadar bahwa Injil juga dibutuhkan bagi semua orang di muka bumi ini termaksud Orang Indian yang dianggap tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia lain. Pengorbanan kedua orang ini membuka mata kita untuk memberitakan Injil kepada siapa saja tanpa memandang rendah mereka yang dianggap tidak ada artinya di dunia ini. Segala Kemuliaan Hanya Bagi Nama Yesus Kristus

Riwayat Hidup “KAGAWA” Yang Ditulis Oleh: William Axling


Toyohiko Kagawa lahir di Kobe, 10 Juli 1888. Bapaknya adalah seorang politikus dan pembesar di Jepang. Namun ibunya adalah seorang gundik dari ayahnya tersebut. Ibunya meninggal sewaktu Kagawa masih kecil, yaitu ketika ia berumur empat tahun. Oleh karena itu, Kagawa dipelihara oleh ibu dan nenek tirinya di desa Awa. Nenek tirinya adalah seorang yang kejam sehingga Kagawa mendapat perlakuan yang buruk. Masa kecilnya ia jalani di dalam penderitaan yang berat.

Setelah Kagawa menyelesaikan pendidikan rendahnya di Awa, ia dikirim untuk belajar di kota bersama pamannya. Lagi-lagi di sekolah ia kurang disukai oleh teman-temannya, karena ia tidak mau ikuti dalam keburukan teman-temannya seperti berjudi mencuri dan melacur. Ia menjadi seorang yang pemurung.

Ketika dilihat oleh pamannya bahwa Kagawa adalah seorang yang cerdas maka ia mengirim Kagawa belajar bahasa Inggris pada seorang pendeta Gereja Presbiterian, yang bernama Katayama tetapi Kagawa menyebutnya Dr. Harry Myers. Mulai saat itulah Kagawa mulai mengenal kekristenan, ia mulai berdoa sekalipun ia belum menjadi Kristen, ayat-ayat Alkitab mulai dihafalkannya terutama mengenai Khotbah di Bukit. Ia ingin menjadi sama seperti Kristus. Dalam doanya hal yang dimintanya adalah “ Jadikanlah aku seperti Kisrtus.” Akhirnya, pada usia 15 tahun tanpa sepengetahuan pamannya ia dibaptis dan menjadi Kristen.

Setelah lulus sekolah menengahnya, pamannya menyuruh melanjutkan pelajarannya pada Imperial University, namun Kagawa menolaknya dan menyatakan bahwa ia telah menjadi seorang Kristen. Mendengar hal tersebut kemudian ia diusir oleh pamannya. Kagawa kemudian di tampung oleh Dr. Myers dan ia disekolahkan di Presbyterian Collage di Tokyo sejak tahun 1905. Ia menaruh perhatian pada Filsafat, masalah sosial seluruh bidang hidup manusia terutama menyangkut tindakan-tindakannya. Pada tahun ke dua di sekolah tersebut dia terserang penyakit TBC, dan terpaksa meninggalkan sekolah dan pergi ke suatu desa pantai terpencil. Walaupun demikian tetap berusaha mengabarkan Injil di kalangan para nelayan dan sekelilingnya.

Namun kemudian, Kagawa sembuh dari penyakitnya dan sekarang ia memasuki Seminari Teologi Kobe. Kagawa mulai terjun melayani orang-orang miskin. Bahkan sejak natal tahun 1909 ia memutuskan untuk tinggal bersama dengan orang-orang miskin di daerah kumuh yang bernama Shinkawa. Di sini Kagawa tinggal dalam sebuah gubuk darurat berukuran 2x2 m. dalam tempo yang tidak lama penghuni gubuk ini menjadi lima orang. Kagawa melayani mereka dengan penuh kasih. Ia tetap meneruskan studinya. Beasiswa yang diperolehnya dibelanjakan untuk keperluan lima orang miskin tersebut. Kagawa menikah dengan Maruko Shiba, seorang karyawati sebuah perusahaan penjilidan. Wanita ini mengabdikan seluruh hidup dan pelayanan bersama dengan suaminya sampai akhir hidupnya.

Usaha-usaha Kagawa terhenti sebentar karena ia harus melanjutkan studinya di Amerika di Universitas Princeton, setelah pendidikan seminarinya selesai kira-kira pada tahun 1914-1917 kemudian ia kembali lagi ke Sinkawa. Kesadaran kaum pekerja mulai timbul pada tahun 1921 ketika kaum buruh dari galangan kapal Kawasaki dan Mitsubishi di Kobe mengadakan pemogokan. Puncak kegiatan Kagawa dalam bidang sosial adalah ketika ia mulai suatu gerakan yang disebut “Gerakan Kerajaan Allah” usaha tersebut dimulai dengan kampanye-kampanye yang serentak diadakan di enam kota terbesar di Jepang.

Gerakan ini berusaha mengabarkan Injil kepada tiap kelompok dan golongan: petani, buruh industri dan pabrik, nelayan, buruh tambang, pekerja bidang transport, buruh-buruh kasar bidang pekerja umum. Gerakan ini juga disebut Gerakan pekabaran Injil sekaligus gerakan perbaikan sosial. Gerakan ini juga dimaksudkan untuk menciptakan persaudaraan baru dengan membentuk pelbagai macam perhimpunan kaum buruh yang besifat koperasi. Dalam kampanyenya ia mengkritik gereja dengan pedas, antara lain: Kejahataan gereja terbesar pada abad ini ialah bahwa walaupun di antara anggota-anggotanya terdapat banyak penganggur, orang miskin, dan orang kelas paling bawah yang tidak memiliki hak-hak apa pun, tetapi gereja sering tidak mengulurkan tangannya untuk mengangkat mereka.

Menurut Kagawa ada tiga ciri kehidupan utama pada abad ke-20 dipandang menjadi pokok utama yang mengacaukan hidup dunia ini. Pertama adalah pemusatan penduduk di kota-kota, yang disertai bertambahnya bahaya fisik, moral dan psikologis. Kedua adalah konsentrasi peralatan mesin, dan pertuanan mesin atas manusia. Ketiga adalah pemusatan modal di tangan segelintir orang, yang mengakibatkan pembagian yang makin tidak adil, eksploitasi, kemiskinan dan determinisme ekonomi. Oleh sebab itu dibutuhkan rekonstruksi sosial dengan jalan perubahan dan organisasi dengan tidak melalui kekerasan dan perusakan.

Kagawa ingin mewujutkan suatu masyarakat Kristen serta menjadikan seluruh dunia sebagai masyarakat Kristen yang didasarkan pada kasih dan salib Kristus. Kagawa banyak mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk mempropagandakan gerakanya itu. Pidatonya yang terkenal yaitu menyangkut hati nurani “Nurani manusia itu sendiri adalah politik, ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan akan berjalan dengan sendirinya.”

Kagawa dikenal sebagai Ibu dari gerakan buruh di Jepang, seorang pendiri Serikat Buruh yang pertama di Jepang, dia juga dikenal sebagai salah seorang tokoh sosialis Jepang pertama yang berseru dengan suara nyaring melawan materialisme, kapitalisme, perjuangan kelas, kekerasan dan pengertian agama statis.

Tinjauan Kritis

Hal penting yang disumbangkan oleh Kagawa bagi kekristenan terutama kaum kapitalis adalah untuk menurunkan tingkat penghidupan mereka sampai pada ukuran minimal yang terdapat dikalangan rakyat, untuk mengabdikan modalnya untuk meningkatkan seluruh jenjang hidup sosial, dengan kata lain meninggalkan motif tamak yang menjadi kebiasaan kapitalis lainnya.

Kekristenan seharusnya malu mendirikan gereja-gereja besar dan mahal, tetapi gagal mengikuti manusia yang lahir di palungan dan dikubur makan milik orang lain? hal tersebut merupakan kritikan bagi kita yang hanya mementingkan kehidupan yang mewah dan mapan tanpa menyadari bahwa sesungguhnya agama seharusnya memperhatikan dan melibatkan seluruh hidup baik rohani maupun jasmani, ekonomi, psikologi dan sosial.

Hal yang memberi masukan penting bagi bangsa Indonesia yang keadannya tidak terlalu jauh berbeda yaitu seharusnya kita mencoba rekonstruksi sosial dengan jalan perubahan dan organisasi dengan tidak melalui kekerasan dan perusakan. Hal ini yang kurang diperhatikan oleh bangsa kita, walaupun untuk merubah suatu struktur yang telah berjalan membutuhkan suatu pengorbanan yang tidaklah kecil.

Tinjauan Teologis

Rasa nasionalisnya yang tinggi membuat dirinya dikenal oleh bukan hanya oleh kaum buruh dan orang miskin semata, tetapi dirinya dapat memberi dampak yang luar biasa dalam merubah cara berpikir orang Jepang dengan mengatakan bahwa pembebasan terhadap kaum buruh adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan daerah Shinkawa yang terkenal sebagai pusat dari kejahatan yang terjadi di Jepang.

Cinta yang tulus oleh seorang yang bernama Kagawa dapat merubah suatu kehidupan yang begitu keras dan menakutkan menjadi suatu keakraban yang luar bisa karena ia tak memandang status kehidupan dari orang yang akan dilayani, karena pengalaman kehidupannya yang sangat buruk yang ia lalui sebagai suatu pelajaran yang sangat berharga dalam melayani orang-orang yang hampir sama hidupnya dengan dia yaitu mereka yang terbuang, yang dianggap tidak berguna tetapi yang kemudian memberikan pengaruh yang luar biasa. Setelah membaca buku ini, saya menjadi sadar bahwa hidup ini sebenarnya adalah suatu mujizat.

Walaupun dalam keadaan sakit-sakitan tetapi dia berusaha mendedikasikan kehidupan hanya untuk Kristus Yesus dengan mengabarkan kebenaran Injil kepada orang-orang yang terbuang, tak sedikit ia disakiti, dipukuli bahkan hampir saja mati dibunuh tetapi karena kasihnya begitu besar terhadap Tuhannya dia rela mempertaruhkan segalanya. Hal tersebut memotivasi kehidupan saya apakah saya mampu melalui cobaan serta rintangan yang dihadapi oleh orang yang bernama Toyohiko Kagawa?.

Segala Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan Yesus Kristus.