Kamis, 29 Mei 2008

Refleksi dari Film “The Mission”





Missi dari Ordo Yesuit yang dibawah oleh Pastor Gabriel pada tahun 1750 ke suku Indian yang terletak pada perbatasan Argentina, Paraguai dan Brazil bukan sekedar pengabaran berita Injil tetapi juga berusaha menata kehidupan yang lebih layak bagi suku Indian yang dianggap bukan manusia tetapi sebagai hewan yang diperjualbelikan oleh orang Portugis dan dijadikan budak.

Bukti nyata yang diberikan oleh Pastor Gabriel dalam pembangunan negeri di mana suku Indian bermukim yaitu terbentuknya daerah pertanian yang berkembang dengan pesat seperti perkebunan pisang yang besar dan subur. Tetapi sayangnya tanah yang digarap tersebut merupakan daerah yang diperebutkan oleh dua negara yang ingin menguasai daerah tersebut yaitu Portugis dan Spanyol.

Perkembangan dari daerah yang menjadi sasaran missi tersebut tidaklah mendapat sambutan baik dari kedua negara yang ingin menguasai daerah tersebut terutama orang Portugis, karena dengan adanya missi dari Yesuit menghambat keinginan mereka untuk menangkap orang-orang Indian tersebut untuk diperjualbelikan menjadi budak. Alasan tersebutlah yang membuat sehingga orang Portugis sangat tidak setuju kalau missi tersebut terus berkembang di daerah itu.

Untuk itulah orang Portugis berusaha menghambat pergerakan missi dengan cara memanfaatkan gereja sebagai badan yang melegitimasi keinginan mereka tersebut, karena dengan mengatasnamakan gereja mau tidak mau missi tersebut terhambat karena mereka terikat oleh sumpah setia mereka yaitu “Ketaatan Terhadap Perintah Gereja.”

Hal ini menimbulkan keresahan dalam diri Pastor Gabriel, sehingga ia mencoba meminta persetujuan dari Paus untuk membantu mereka dalam hal tersebut. akan tetapi respon Paus kuranglah bijaksana dalam memutuskan hal tersebuit, sehingga menimbulkan kurang puas di hati orang missi akan hal tersebut. Maka timbul dua kubu yang mencoba mengatasi masalah tersebut yaitu Mandoza (seorang yang hidupnya menjadi penangkap orang Indian untuk dijadikan budak kemudian bertobat) ingin mengatasinya dengan cara perlawanan bentuk fisik, sedangkan Gabriel berusaha untuk tetap taat tanpa melakukan perlawanan dalam bentuk fisik, yang pada akhirnya kedua orang tersebut memperjuangkan sampai akhir hidup mereka karena cintanya kepada orang Indian yang dianggap oleh orang Portugis sebagai binatang yang dengan mudah ditangkap dan diperjualbelikan.

Karena kasih yang begitu mendalam dari kedua orang tersebut yaitu Pastor Gabriel dan Kapten Mandoza kepada Orang Indian sehingga mereka sadar bahwa Injil juga dibutuhkan bagi semua orang di muka bumi ini termaksud Orang Indian yang dianggap tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia lain. Pengorbanan kedua orang ini membuka mata kita untuk memberitakan Injil kepada siapa saja tanpa memandang rendah mereka yang dianggap tidak ada artinya di dunia ini. Segala Kemuliaan Hanya Bagi Nama Yesus Kristus

1 komentar:

Psycooklogy mengatakan...

makasih atas refleksinya sangat membantu..