Kamis, 29 Mei 2008

Iman, Rasio dan Kebenaran oleh Pdt. Dr Stephen Tong

Buku ini mencoba mengulas mengenai pengertian Iman dan bagaimana kaitan Iman itu sendiri dengan Rasio dan Kebenaran yang hakiki yang wilayah atau objek pembahasannya terletak pada diri manusia yang merupakan gambar atau peta dari Allah sendiri. Mengapa sehingga pembahasannya terfokos pada diri manusia? menurut Stephen Tong alasannya ialah karena manusialah satu-satunya makhluk yang diciptakan Tuhan yang dapat mengenal Kebenaran, yaitu melalui Rasio. Juga manusia itu dapat menjalankan keadilan, yaitu memiliki sifat hukum, dan satu-satunya makhluk yang berkewajiban moral, untuk mencapai tuntutan kesucian. Hal-hal tersebutlah menurutnya yang dapat membedakan manusia dengan semua makhluk.

Dan untuk mengerti semuanya itu, menurutnya manusia perlu yang namanya Rasio. Karena dengan Rasio yang dianugerahkan Tuhan kepada Manusia itulah maka Manusia akan mengerti Kebenaran. Walaupun tanpa Rasio, Kebenaran itu telah ada dan tetap adalah Kebenaran. Menurut beliu agar Rasio itu

menjadi Rasio yang berkebenaran apabila Rasio tersebut ditaklukan di bawah Kebenaran itu sendiri. Dengan kata lain Kebenaran sebagai subyek dan Rasio itu sebagai obyek. Namun demikian Rasio itu tidak untuk dimutlakan, karena Rasio itu sendiri mengalami yang namanya proses dan perubahan. Kerena menurutnya segala sesuatu yang mengalami sebuah proses atau prubahan tidaklah dapat dijadikan suatu patokan yang benar.

Menurut Stephen, dengan Iman yang sungguh-sungguh sebagai fungsi Rasio, semuanya harus berakar pada Kebenaran, sehingga orang akan lebih mampu bertanggung jawab dan dapat menjelaskan mengapa sampai ia mempercayai sesuatu, Jangan sampai Iman yang dianut atau dipercayai tersebut dicampurkan dengan tahyul.

Dalam bukunya Stephen menegaskan bahwa Rasio tidak boleh dibunuh oleh Iman, sebab Rasio itu diciptakan oleh Allah yang dianugerahkan dalam diri Manusia yang menempati fungsi yang penting, agar melalui Rasio itu, Manusia mengerti Kebenaran. Stephen juga menekankan bahwa Manusia dapat mengerti karena beriman, bukan karena Manusia itu mengerti baru ia beriman. Katanya alangkah hebatnya bila Manusia dapat percaya kepada Tuhan, tetapi alangkah bahagianya bila ia dapat mengerti mengapa sampai ia percaya. Stephen menegaskan jangan sampai meniadakan Rasio. Tetapi juga jangan sampai memperillahkan Rasio. Jangan menyangkal Rasio tetapi jangan juga mendewakan Rasio. Sebab Rasio hanya sebagai suatu fungsi yang tinggi yang diciptakan Tuhan didalam diri manusia, yang serupa dan segambar dengan Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Rasio bukan tidak ada gunanya, tetapi juga Rasio tidak setara dengan Allah. Allah adalah pencipta Rasio, Rasio diciptakan oleh Allah. Antara pencipta dengan yang dicipta selalu ada tenggangan yang juga disebut sebagai kualitas pembeda. Pembeda tersebut secara esensi menunjukan bahwa antara pencipta dengan yuang dicipta itu tidak sama.

Stephen dalam bukunya menghimbau dalam hidup Manusia, tidak hanya memikirkan hal-hal yang kecil saja tetapi lebih daripada itu, Manusia diciptakan juga untuk memikirkan hal-hal yang besar, tetapi hal-hal yang dipikirkan tersebut digunakan untuk memuliakan Tuhan. Menurutnya Manusia dalam berpikir paling sedikit memiliki tiga kategori atau bidang pikiran yang besar. Yaitu memikirkan hal-hal yang dibawah Manusia, memikirkan hal-hal yaang di dalam diri Manusia itu sendiri, dan memikirkan hal-hal yang lebih jauh, lebih besar dan lebih tinggi dari pada Manusia. tetapi perlu diingat bahwa Allah tidak dapat dibawah oleh Manusia kedalam pikirannya. Sebab segala sesuatu itu diciptakan oleh-Nya dan Ia yang berkuasa atas semuanya itu.

Dan yang merupakan inti dari penyampaiannya adalah bahwa Iman sebagai dasar dan Rasio merupakan obyek untuk mengerti Kebenaran. Atau iman sebagai dasar untuk berpijak dan Rasio merupakan jembatan kepada Kebenaran. Tetapi sekali lagi dengan Berimanlah seorang dapat mengerti Kebenaran.

INTERAKSI TERHADAP ISI BUKU

Saya menyetujui apa yang diutarakan oleh Stephen Tong, bahwa tidak ada suatu penemuan apapun di dalam bidang ilmu pengetahuan yang tidak didasarkan pada praanggapan yang bersifat Imaniah. Mengapa sehingga ia berani membuat stekmen tersebut, karena ketika seseorang menyelidiki sesuatu, ia yakin dan memiliki kepercayaan bahwa ia dapat mengetahui atau menemukannya. Sehingga dengan dorongan itu, ia mulai menyelidiki. Itu menyatakan bahwa semua penilitian dan pengujian ilmiah didasarkan pada suatu keyakinan yaitu Iman. Itu sebabnya Iman mendahului pengetahuan.dan jika ada yang beranggapan jika Rasio bekerja maka Iman tidak diperlukan adalah tidak benar.

Saya sependapat dengan Stephen yang menyatakan bahwa setiap orang kristen atau orang percaya tidak menganggap Iman hanya sekedar menyatakaan ”Saya Percaya” kemudian dibaptis dan menjadi anggota Gereja, tetapi Iman merupakan keseluruhan pribadi seseorang sebagai Manusia. Dengan Rasio yang pada ujungnya kembali pada Kebenaraan. Itu sebabnya Iman merupakan tindakan keseluruhan bukan bertahap.

Saya dalam hal ini sangat setuju dengan yang dikatakannya bahwa Kebenaran yang tertinggi pada hakekatnya adalah Tuhan Allah yaitu Kebenaran itu sendiri. Dan kebenaran tersebut harus dimutlakan sebab kebenaraan itu tidak mengalami proses sama seperti Rasio. Sebab Allah sendirilah Kebenaran tersebut. Sehingga tidak ada seorang pun yang mencoba untuk menurunkan Allah dari posisi-Nya sebagai Kebenaran itu, untuk dibawa kedalam pemahaman Manusia. karena manusia sendiri merupakan buah karya Allah , bagaimana mungkin yang dicipta lebih besar dari pencipta?. Hal tersebut masuk akal dan logis, Juga segala sesuatu di dalam dunia ini ada awalnya, hal tersebut sesuatu yang masuk akal. Tetapi jangan sampai beranggapanbahwa segala sesuatu yang masuk akal saja yang diterima, sebab ada yang melampaui akal manusia yang tidak bisa di jangkau oleh manusia yaitu Allah sendiri.

APRESIASI TERHADAP ISI BUKU

Penulisan kata-kata dan bahasanya, disajikan cukup baik, dan terstruktur sehingga bagi yang membacanya tidak terlalu sulit untuk mengertinya. Dalam pembahasannya juga cukup sistematik terlihat dari penyajiannya yang berawal dari sifat rasio itu sendiri sebagai peta dan teladan dan bagaiman sehingga Manusia itu disebut sebagai mahluk yang Rasional. Juga peranan Rasio itu baik dalam pandangan Agama maupun Allah sebagai Kebenaran itu sendiri, dan juga kaitan antara Iman dengan Rasio dan Kebenaran yang adalah Allah sendiri.

Sebagai pemula dalam dunia filsafat saya sendiri cukup tertarik untuk mempelajari buku ini terutama untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan erat dengan Iman, rasio dan Kebenaran, yang akan saya hadapi dalam dunia pelayanan saya. Di mana nantinya jemaat yang akan saya gembalakan memiliki pemahaman yang kuat tentang apa yang ia pelajari, bukan hanya sekedar identitas sebagai orang yang percaya, tetapi lebih dari pada itu, ia dapat mengerti bagaiman ia sampai menjadi percaya .

Buku ini juga memberi masukan baru bagi pemahaman penulis yaitu orang terlebih dahulu percaya kemudian ia mengerti, bukan orang mengerti kemudian baru ia percaya. Dan rasio yang dimiliki oleh setip manusia harus ditaklukan di bawah kebenaran agar menjadi rasio yang berkebenaran.

Adapun penilaian para pembaca terhadap buku “Iman, Rasio dan Kebenaran” karya Stephen Tong, buku ini sangat sitematis dan sangat relevan dengan kehidupan kekristenan saat ini, lagi pula penyajiannya pun mudah untuk dipahami oleh orang awam dan para intelektual. Penulis menyarankan supaya setiap mahasiswa menjadikan buku “Iman, Rasio dan Kebenaran” menjadi buku pegangan dan wajib untuk dibaca sebelum lebih dalam mempelajari ilmu filsafat. Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar: