Allah menghendaki semua orang di muka bumi untuk diselamatkan. Keselamatan tersebut telah dikerjakan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai anak-Nya yang Tunggal. Dalam konteks ini terdapat suatu pemahaman teologis yang penting dan sangat mendasar, bahwa Allah sendirilah yang telah berinkarnasi menjadi manusia untuk melaksanakan karya penebusan dosa.
Dengan demikian, jelaslah siapa yang menjadi objek dari tujuan inkarnasi-Nya, yaitu manusia dan pelaku inkarnasi adalah Allah sendiri. Inilah yang dipahami dalam terang Iman Kristen.
Percaya akan kebenaran tersebut, maka inti dari berita Injil adalah bahwa Kristus Yesus telah mati demi dosa-dosa manusia, Ia telah disalibkan, dan dibangkitkan pada hari yang ketiga, menurut Kitab Suci harus disampaikan kepada semua orang tanpa terkecuali. Tentang hal pokok ini, ternyata telah menimbulkan kesulitan yang cukup berarti dalam upaya penjangkauan orang berdosa khususnya bagi penganut agama Muslim. Dalam frame teologi Islam, hal ini nampak seperti sebuah pemahaman yang mengada-ada.
Akar masalahnya adalah perbedaan cara pandang Kristen dan Islam mengenai kodrat manusia dalam dosa. Bagi Islam, nabi tidaklah mungkin melakukan dosa yang fatal akibatnya sehingga berdampak pada penghukuman kekal. Dosa yang dilakukan oleh Adam hanya dianggap sebagai suatu kealpaan saja. Artinya dosa tidak memiliki kuasa yang terlalu kuat untuk mempengaruhi keselamatan manusia. Penafsirannya,dosa bukanlah sebuah kasus yag serius.
Keberdosaan Adam bukan suatu kejatuhan. Hal itu tidak lebih dari sebuah kekhilafan semata. Oleh karena itu, pada dasarnya manusia dipandang sebagai makhluk yang baik. Islam menempatkan manusia pada harapan yang optimistic. Dengan demikian, maka tidak heran jika penganut agama Islam dengan setia melakukan perbuatan-perbuatan yang “baik/benar” untuk memperbaiki diri. Mereka tidak membutuhkan usaha apapun dari luar untuk membebaskan diri dari belenggu dosa. Manusia dinilai masih mampu untuk mengatasi masalah dosa dengan sendiri. Ada harapan yang positif terhadap manusia.
Pemahaman teologi yang seperti ini turut menentukan juga bagaimana selanjutnya upaya untuk menyelesaikan dosa tersebut. Sangat berlebihan jika Allah yang Mahakuasa itu harus menjelma menjadi manusia untuk menyelesaikan dosa tersebut. Artinya peristiwa Inkarnasi tidak perlu terjadi.
Menyikapi pemahaman yang demikian, demi kepentingan Injil maka menjadi tanggung jawab orang percaya untuk memberikan suatu kejelasan yang dapat diterima oleh pihak Muslim. Untuk hal tersebut kelompok kami memberikan beberapa tanggapan sebagai berikut;
- Dosa Adam merupakan suatu awal dosa manusia yang benar-benar serius. Sebab, pelanggaran yang dilakukan oleh Adam, bukan hanya sekadar sebuah kealpaan, melainkan sebagai suatu pemberontakkan terhadap Allah dengan motivasi tertentu.
- Doktin Islam yang demikian sepertinya kurang dipertanggungjawabkan secara Qur’ani. Mengapa? Sebenarnya Qur’an sendiri dalam banyak teks/ayat-ayat tertentu memberikan petunjuk bahwa dosa manusia adalah benar-benar serius sehingga semestinya membutuhkan jalan keluar yang sungguh-sungguh. Jadi sesungguhnya Qur’an pun memberikan konsep tentang dosa yang dapat sejalan dengan konsep Alkitabiah. Mungkin juga dapat dikatakan sepakat dalam hal penyelesain dosa.
- Kelompok kami memandang adanya persamaan cara pandang Qur’an dan Alkitab tentang pokok dosa, maka untuk menjelaskan Injil/berita keselamatan, dapat tetap menggunakan Alkitab, namun sebijaksana mungkin. Maksudnya perlu untuk membedakan kepada siapa berita Injil tersebut disampaikan. Kalau pendengarnya adalah orang yang terpelajar dapat saja dimulai dengan penjelasan latar belakang yang ada pada persamaan kedua konsep tersebut. Tetapi terhadap masyarakat awam, akan lebih dapat diterima jika menjelaskan akan apa kata Qur’an tentang dosa.
Dalam bukunya yang berjudul Kerinduan Akan Allah Yang Sejati, yang ditulis oleh Don Richardson, memberikan banyak sekali kesaksian tentang pendekatan yang dilakukan oleh para misionaris untuk memenangkan berbagai suku di muka bumi ini. Gambaran yang diperoleh dari esainya yang jelas tersebut, bahwa Injil akan lebih mudah diterima jika diberitakan secara kontekstual. Kesimpulannya adalah bahwa sesungguhnya Allah telah menyiapkan semua suku, kaum, dan kepercayaan, yang ada di muka bumi ini dengan menanamkan suatu kesadaran akan adanya Penguasa mutlak di atas segala-galanya. Kepada Penguasa inilah manusia harus beribadah. Dari pemahaman sederhana yang demikian, maka berita Injil akan lebih mudah dimengerti asalkan dijelaskan secara kontekstual (memakai penggambaran yang telah dimiliki).
Jika penjelasan Don Richardson apabila diaplikasikan dalam konteks Islam - Kristen, maka sebenarnya sangat besar harapan untuk dapat menjangkau umat Muslim untuk mengakui Yesus sebagai Allah yang telah berinkarnasi dan menjadi manusia yang oleh-Nya manusia dapat diselamatkan dari dosa-dosa. Allah telah menyiapkan apa yang ada pada pemahaman dasar agar mereka dapat dibawa kepada keselamatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar