Review Book
“Yesus Sang Radikal”
Oleh: R. T. France.
PENDAHULUAN
Yesus Sang Radikal: Potret Manusia yang Disalibkan, yang ditulis oleh R. T. France yang diterjemahkan oleh P. G. Katoppo, merupakan sebuah buku yang mengulas mengenai Yesus dan bertujuan menunjukan arti dari hidup-Nya bukan hanya bagi orang zaman dulu tetapi bagi kita juga. Buku ini diterbitkan oleh PT. BPK Gunung Mulia, cetakan pertamanya tahun 1996 dan cetakan terakhir (cetakan ke-4) pada tahun 2002.
RINGKASAN ISI BUKU
Buku karya Richard T. France yang judul aslinya adalah Jesus The Radical yang ditulis secara populer memang tidak dimaksudkan sebagai respon atau tanggapan atas diskusi yang berkembang di seputar pencarian “Yesus Sejarah” yang dihebohkan sebagian kalangan.
Buku ini merupakan upaya untuk menulis injil bagi manusia modern. Tujuannya ialah untuk menunjukan makna kehadiran Yesus bukan saja kepada orang-orang semasa hidup-Nya, tetapi juga kepada kita. Namun, hal ini dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta historis mengenai kehidupan-Nya. Jadi jelaslah bahwa tidak ada klaim objektivitas melulu dalam usahanya menggambarkan sosok Yesus yang diyakini masih relevan bagi setiap generasi. Dalam pengantar yang sama, penulis terus terang mengakui bahwa gambarannya tentang Yesus mau tidak mau mencerminkan pilihan-pilihan dan keyakinan-keyakinan pribadinya juga. Sebab menurut penulis, tidaklah mungkin menggambarkan diri Yesus tanpa memihak. Seandainya pun mungkin, maka hasilnya benar-benar mustahil, yakni sosok Yesus yang tidak mempunyai bobot teologis dan tidak mungkin akan dipuja jutaan manusia.
Penulis memulai uraiannya dengan “Nazaret”
Dalam bagian-bagian lain dari buku ini, keputusan untuk menerima atau menolak Yesus ini mendapat sorotan secara khusus. Kehadiran-Nya bukan saja memancing tanda tanya, tetapi juga pilihan-pilihan radikal. Sebagai contoh, menjadi murid-Nya bukan sekedar ikut-ikutan, tetapi menuntut komitmen total: “Tidak seorangpun dapat bekerja untuk dua majikan... kalian tida dapat bekerja untuk Allah dan untuk harta benda juga” (Mat. 6: 24, hal. 53). Dengan kata lain, harus berani “lain dari yang lain” (hal. 54).
Tuntutaan untuk hidup radikal dengan komitmen total bukan sekedar ucapan atau ajaran sang Guru belaka. Pertentangan-pertentangan dengan para pemuka agama Yahudi yang pada akhirnya mengiring Dia ke jalan penuh derita yaitu dengan peristiwa penyaliban-Nya. Yang menyebabkannya adalah sikap radikal-Nya dalam mengerti perjanjian lama yaitu kembali ke pokok persoalan, mencari jiwa dan apa maksud Kitab suci yang sebenarnya. Jadi, bukan sekedar menjalankan hidup beragama menurut “bunyi hukum” yang seringkali menjadi sebuah hukum yang kaku dan beku. Karena itu, tidak mengherankan salah satu sikap yang paling dibenci-Nya adalah Kemunafikan!.
IDE PENGARANG
Sesuia dengan judulnya Yesus Sang Radikal, tampaknya penulis justru ingin mengajak pembaca untuk memikirkan dan menggumuli kembali secara radikal keyakinan-keyakinan dan pilihan-pilihan yang harus diambil di tengah-tengah arus kehidupan modern yang kian deras melanda. Yang diharapkan bukan suatu sikap objektif saja, tetapi terlebih lagi keputusan “ya” atau “tidak” sama sekali terhadap Allah.
SARAN dan KRITIK
Buku Yesus sang Radikal banyak memberi masukan yang berarti kepada saya yaitu dalam hal melihat pribadi Yesus yang menyeluruh tidak hanya melihat Yesus dari sisi-Nya sebagai Tuhan tetapi melihat-Nya dari sisi kemanusiaan yang mempunyai Visi dan Misi yang menyeluruh sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa: Karena Yesus itu adalah Tuhan maka apa yang Dia inginkan terjadi maka semuanya itu dapat terjadi, tetapi marilah melihat Yesus dari sisi yang berbeda yaitu pandanganNya sebagai seorang manusia yang Radikal.Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Amos yang telah menjadikan buku ini menjadi salah satu buku referensi bagi saya.?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar