Kamis, 29 Mei 2008

“Berteologi secara Kontekstual dan Penafsiran Alkitab” oleh: Pdt. Yusak Tridarmanto.

Review Book Teologi Operatif Bab III

Berteologi secara Kontekstual dan Penafsiran Alkitab

oleh: Pdt. Yusak Tridarmanto.

PENDAHULUAN

Berteologi secara Kontekstual dan penafsiran Alkitab yang ditulis oleh Pdt Yusak

Tridarmanto, M.Th merupakan sebuah artikel dari beberapa artikel yang telah diseminarkan

dan memperoleh masukan dari peserta dan telah dibukukan. Buku ini pertama kali diterbitkan

oleh BPK Gunung Mulia: Jakarta, pada tahun 2003. Dan disunting oleh Asnath N. Natar, M.

Th, Dr. Cahyana E. Purnama, M.A, dan Karmito, M.Th. Judul artikel ini termaksud pada

bagian pertama dari buku Teologi Operatif dan merupakan bab ketiga yang terletak pada

halaman 26-36.


GARIS BESAR ISI BUKU

Artikel ini membahas mengenai peranan presuposisi dalam proses penafsiran teks

Alkitab, dan implikasinya bagi teologi kontekstualisasi. Yang secara khusus hendak

membahas salah satu presuposisi yang menyatakan bahwa teks Alkitab merupakan salah satu

bentuk komunikasi tertulis. Menurut Pdt Yusak Tridarmanto apa yang akan disampaikan

tidak akan efektif kecuali disampaikan dengan menggunakan simbol dan kode yang berasal

dari sestem sosial setempat. Untuk itu, pemanfaatan ilmu-ilmu sosial dalam proses penafsiran

Alkitab dirasakan oleh penulis sebagai kebutuhan yang mendesak.

Artikel ini dibagi ke dalam empat bagian, bagian pertama membahas mengenai mengapa artikel tersebut sampai ditulis serta apa masalahnya. Menurut Pdt Yusak Tridarmanto alasan utama ialah untuk menemukan cara baru dalam membaca teks Alkitab yang pada dasarnya tetap sama, yaitu bagaimana Alkitab yang diyakini sebagai Firman Allah yang disampaikan kepada manusia dalam situasi sosial-budaya tertentu pada masa lampau itu tetap dapat menjadi Firman yang aktual bagi kehidupan manusia saat ini. Sehingga munculnya ide tentang berteologi secara kontekstual yang mengakibatkan timbulnya beberapa cara membaca teks Alkitab secara berbeda. Menurut beliau, salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan ialah adanya upaya untuk mempertimbangkan secara sungguh-sungguh akan perlunya membuat analisa budaya terhadap teks Alkitab

Bagian kedua membicarakan tentang peranan peresuposisi dalam penafsiran Alkitab. Menurut bekiau, sadar atau pun tidak, presuposisi akan selalu berperan menjadi faktor penentu didialam proses penafsiran Alkitab. Untuk mengungkapkan dan menemukan makna yang hendak disampaikan oleh teks Alkitab tertentu, perlu terlebih dahulu disadari dalam teks itu sendiri diungkapkan dan dibahas dalam konsep yang sedikit banyak dikondisikan oleh budaya setempat.

Menurut Pdt. Yusak kalau dilihat dari cara pandang atau kacamata sosiologi, manusia memang tak mungkin lepas dari lingkungan sosialnya. Dalam proses penafsiran Alkitab perlu sekali adanya bantuan dari ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi pengetahuan dan antropologi. karena baik penulis Alkitab maupun pembacanya masing-masing memiliki sestem sosial mereka sendiri. Memang dalam sisi yang lain banyak pihak yang masih merasa takut untuk menggunakan teori sosial sebagai alat bantu dalam menafsirkan Alkitab. Hal tersebut dibahas oleh beliau dalam bagian ketiga.

Bagian terakhir dari pokok yang dibahas oleh Pdt. Yusak adalah Implikasi dari presuposisi dan analisis sosial-budaya bagi teologi kontekstualisasi. Menurutnya di dalam kegiatan berteologi secara kontekstual ada tiga konteks penting yang menuntut perhatian khusus yakni, yang pertama konteks Alkitab, kedua konteks tradisi, dan ketiga konteks jemaat atau masyarakat yang didalamnya teologi itu sedang diupayakan. Menurut beliau konteks Alkitab itu sendiri meliputi dua konteks utama, yakni konteks penulis dan konteks penerima asli teks Alkitab. Hubungan antara ketiga konteks di atas yaitu konteks Alkitab, konteks tradisi, dan konteks jemaat atau masyarakat menurutnya sangat menentukan bagi terwujudnya kontekstualisasi teologi.

Beliau mengungkapkan bahwa perubahan budaya dimungkinkan manakala terjadi perjumpaan antara kebudayaan yang satu dengan yang lain. Hal itu berarti bahwa proses interaksi antara konteks Alkitab, tradisi, dan konteks jemaat atau masyarakat dapat memungkinkan timbulnya kebudayaan baru. Sebab menurutnya interaksi antara konteks tersebut sebenarnya merupakan interaksi dari beberapa aspek kebudayaan yang berbeda. Kebudayaan yang dinamis inilah menurut Pdt. Yusak Tridarmanto yang harus senantiasa ada didalam benak seseorang, yang hendak mencoba mengungkapkan ketiga konteks tersebut dalam sistem sosial, dalam rangka menuju teologi yang kontekstual.

Sehingga menurut beliau dalam rangka mengungkapkan suatu sistem sosial dibalik teks Alkitab jelas akan mengalami persoalan yang tidak ringan. Persoalan tersebut ialah bahwa teks Alkitab itu sendiri sebenarnya tidak memiliki banyak data atau analisis sosiologis. Karena itu, menurut Pdt. Yusak Tridarmanto sangat diperlukannya informasi tambahan dari sumber-sumber lain diluar Alkitab itu sendiri, khususnya sumber-sumber sejarah dan arkeologi. Tetapi sumber-sumber tersebut tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur untuk sebuah kebenaran yang ilahi. Sumber tersebut hanya dapat sampai pada tujuan untuk membantu memahami latar belakang di balik teks-teks Alkitabyang ada.

IDE PENGARANG

Pdt. Yusak menjelaskan bahwa setiap orang terlibat didalam proses penafsiran teks Alkitab selalu membutuhkan presuposisi sebagai titik pijak dalam penafsiran, karena presuposisi penafsiran akan menentukan nantinya corak dan hasil penafsiran seseorang.

SARAN dan KRITIKAN

Artikel ini dalam pembahasannya sangat baik. Maka dari itu saya menyarankan pada setiap mahasiswa atau siapapun yang ingin mendalami penafsiran Alkitab secara kontekstualisasi agar menjadikan artikel ini menjadi bahan untuk referensi yang nantinya akan sangat membantu dalam menemukan jalan keluar yang baik, akhirnya penulis mengucapkan terimakasih untuk Bpk. Amos yang telah menjadikan artikel yang ditulis oleh Pdt. Yusak Tridarmanto sebagai bahan kajian untuk para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Hermeneutika. Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar: