![]()
Toyohiko Kagawa lahir di
Setelah Kagawa menyelesaikan pendidikan rendahnya
Ketika dilihat oleh pamannya bahwa Kagawa adalah seorang yang cerdas maka ia mengirim Kagawa belajar bahasa Inggris pada seorang pendeta Gereja Presbiterian, yang bernama Katayama tetapi Kagawa menyebutnya Dr. Harry Myers. Mulai saat itulah Kagawa mulai mengenal kekristenan, ia mulai berdoa sekalipun ia belum menjadi Kristen, ayat-ayat Alkitab mulai dihafalkannya terutama mengenai Khotbah di Bukit. Ia ingin menjadi sama seperti Kristus. Dalam doanya hal yang dimintanya adalah “ Jadikanlah aku seperti Kisrtus.” Akhirnya, pada usia 15 tahun tanpa sepengetahuan pamannya ia dibaptis dan menjadi Kristen.
Setelah lulus sekolah menengahnya, pamannya menyuruh melanjutkan pelajarannya pada
Namun kemudian, Kagawa sembuh dari penyakitnya dan sekarang ia memasuki Seminari Teologi Kobe. Kagawa mulai terjun melayani orang-orang miskin. Bahkan sejak natal tahun 1909 ia memutuskan untuk tinggal bersama dengan orang-orang miskin di daerah kumuh yang bernama Shinkawa. Di sini Kagawa tinggal dalam sebuah gubuk darurat berukuran 2x2 m. dalam tempo yang tidak lama penghuni gubuk ini menjadi lima orang. Kagawa melayani mereka dengan penuh kasih. Ia tetap meneruskan studinya. Beasiswa yang diperolehnya dibelanjakan untuk keperluan lima orang miskin tersebut. Kagawa menikah dengan Maruko Shiba, seorang karyawati sebuah perusahaan penjilidan. Wanita ini mengabdikan seluruh hidup dan pelayanan bersama dengan suaminya sampai akhir hidupnya.
Usaha-usaha Kagawa terhenti sebentar karena ia harus melanjutkan studinya di Amerika di Universitas Princeton, setelah pendidikan seminarinya selesai kira-kira pada tahun 1914-1917 kemudian ia kembali lagi ke Sinkawa. Kesadaran kaum pekerja mulai timbul pada tahun 1921 ketika kaum buruh dari galangan kapal Kawasaki dan Mitsubishi di Kobe mengadakan pemogokan. Puncak kegiatan Kagawa dalam bidang sosial adalah ketika ia mulai suatu gerakan yang disebut “Gerakan Kerajaan Allah” usaha tersebut dimulai dengan kampanye-kampanye yang serentak diadakan di enam kota terbesar di Jepang.
Gerakan ini berusaha mengabarkan Injil kepada tiap kelompok dan golongan: petani, buruh industri dan pabrik, nelayan, buruh tambang, pekerja bidang transport, buruh-buruh kasar bidang pekerja umum. Gerakan ini juga disebut Gerakan pekabaran Injil sekaligus gerakan perbaikan sosial. Gerakan ini juga dimaksudkan untuk menciptakan persaudaraan baru dengan membentuk pelbagai macam perhimpunan kaum buruh yang besifat koperasi. Dalam kampanyenya ia mengkritik gereja dengan pedas, antara lain: Kejahataan gereja terbesar pada abad ini ialah bahwa walaupun di antara anggota-anggotanya terdapat banyak penganggur, orang miskin, dan orang kelas paling bawah yang tidak memiliki hak-hak apa pun, tetapi gereja sering tidak mengulurkan tangannya untuk mengangkat mereka.
Menurut Kagawa ada tiga ciri kehidupan utama pada abad ke-20 dipandang menjadi pokok utama yang mengacaukan hidup dunia ini. Pertama adalah pemusatan penduduk di kota-kota, yang disertai bertambahnya bahaya fisik, moral dan psikologis. Kedua adalah konsentrasi peralatan mesin, dan pertuanan mesin atas manusia. Ketiga adalah pemusatan modal di tangan segelintir orang, yang mengakibatkan pembagian yang makin tidak adil, eksploitasi, kemiskinan dan determinisme ekonomi. Oleh sebab itu dibutuhkan rekonstruksi sosial dengan jalan perubahan dan organisasi dengan tidak melalui kekerasan dan perusakan.
Kagawa ingin mewujutkan suatu masyarakat Kristen serta menjadikan seluruh dunia sebagai masyarakat Kristen yang didasarkan pada kasih dan salib Kristus. Kagawa banyak mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk mempropagandakan gerakanya itu. Pidatonya yang terkenal yaitu menyangkut hati nurani “Nurani manusia itu sendiri adalah politik, ekonomi, pendidikan dan ilmu pengetahuan akan berjalan dengan sendirinya.”
Kagawa dikenal sebagai Ibu dari gerakan buruh di Jepang, seorang pendiri Serikat Buruh yang pertama di Jepang, dia juga dikenal sebagai salah seorang tokoh sosialis Jepang pertama yang berseru dengan suara nyaring melawan materialisme, kapitalisme, perjuangan kelas, kekerasan dan pengertian agama statis.
Tinjauan Kritis
Hal penting yang disumbangkan oleh Kagawa bagi kekristenan terutama kaum kapitalis adalah untuk menurunkan tingkat penghidupan mereka sampai pada ukuran minimal yang terdapat dikalangan rakyat, untuk mengabdikan modalnya untuk meningkatkan seluruh jenjang hidup sosial, dengan kata lain meninggalkan motif tamak yang menjadi kebiasaan kapitalis lainnya.
Kekristenan seharusnya malu mendirikan gereja-gereja besar dan mahal, tetapi gagal mengikuti manusia yang lahir di palungan dan dikubur makan milik orang lain? hal tersebut merupakan kritikan bagi kita yang hanya mementingkan kehidupan yang mewah dan mapan tanpa menyadari bahwa sesungguhnya agama seharusnya memperhatikan dan melibatkan seluruh hidup baik rohani maupun jasmani, ekonomi, psikologi dan sosial.
Hal yang memberi masukan penting bagi bangsa Indonesia yang keadannya tidak terlalu jauh berbeda yaitu seharusnya kita mencoba rekonstruksi sosial dengan jalan perubahan dan organisasi dengan tidak melalui kekerasan dan perusakan. Hal ini yang kurang diperhatikan oleh bangsa kita, walaupun untuk merubah suatu struktur yang telah berjalan membutuhkan suatu pengorbanan yang tidaklah kecil.
Tinjauan Teologis
Rasa nasionalisnya yang tinggi membuat dirinya dikenal oleh bukan hanya oleh kaum buruh dan orang miskin semata, tetapi dirinya dapat memberi dampak yang luar biasa dalam merubah cara berpikir orang Jepang dengan mengatakan bahwa pembebasan terhadap kaum buruh adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan daerah Shinkawa yang terkenal sebagai pusat dari kejahatan yang terjadi di Jepang.
Cinta yang tulus oleh seorang yang bernama Kagawa dapat merubah suatu kehidupan yang begitu keras dan menakutkan menjadi suatu keakraban yang luar bisa karena ia tak memandang status kehidupan dari orang yang akan dilayani, karena pengalaman kehidupannya yang sangat buruk yang ia lalui sebagai suatu pelajaran yang sangat berharga dalam melayani orang-orang yang hampir sama hidupnya dengan dia yaitu mereka yang terbuang, yang dianggap tidak berguna tetapi yang kemudian memberikan pengaruh yang luar biasa. Setelah membaca buku ini, saya menjadi sadar bahwa hidup ini sebenarnya adalah suatu mujizat.
Walaupun dalam keadaan sakit-sakitan tetapi dia berusaha mendedikasikan kehidupan hanya untuk Kristus Yesus dengan mengabarkan kebenaran Injil kepada orang-orang yang terbuang, tak sedikit ia disakiti, dipukuli bahkan hampir saja mati dibunuh tetapi karena kasihnya begitu besar terhadap Tuhannya dia rela mempertaruhkan segalanya. Hal tersebut memotivasi kehidupan saya apakah saya mampu melalui cobaan serta rintangan yang dihadapi oleh orang yang bernama Toyohiko Kagawa?.
Segala Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan Yesus Kristus.
2 komentar:
apakah yang menjadi metode atau cara kagawa menginjili, dan apa teologinya dalam memberitakan kabar injil di seluruh dunia...
apakah yang menjadi metode atau cara kagawa menginjili, dan apa teologinya dalam memberitakan kabar injil di seluruh dunia...
Posting Komentar