Kamis, 29 Mei 2008

“Cross-Textul Interpretation and Its Implication for Biblical Studies Oleh: Dr. Archie C. C Lee

Review Book Teologi Operaatif

“Cross-Textul Interpretation and Its Implication for Biblical Studies

Oleh: Dr. Archie C. C Lee




PENDAHULUAN

Cross-Textul Interpretation and Its Implication for Biblical Studies adalah sebuah

bahan ceramah utama dari Dr. Archie C. C. Lee, yang disampaikan di hadapan

peserta NTSW-PTSA Indonesia pada bulan Oktober 1996, yang bertempat di

Wisma Duta Wacana, Kaliurang, Yogyakarta. Yang merupakn hasil suntingan dari

Natar, Asnat N. , dkk, dan yang di terbitkan oleh BPK Gunung Mulia.

GARIS BESAR ISI BUKU

Ceramah ini terdapat di dalam bab I dari buku Teologi Operatif, yang mana dalam pembahasannya di bagi ke dalam tiga bagian besar. Yang pertama, membahas sekitar penterjemahan Alkitab dan kenyataan-kenyataan Asia, Kedua berbicara mengenai Identitas Kristiani Asia dan Penterjemahan Temu-Lintas Teks, dan yang terakhir dari pembahasannya adalah Implikasi dan Interpretasi Biblika dan Ilmu Pendidikan Biblika.

Bagian pertama dari artikel ini mengupas masalah Penterjemahan Alkitab dalam kaitannya dengan kenyataan atau realitas kehidupan di Asia. Dalam hal ini, perlu diketahui bersama bahwa Alkitab sendiri memiliki setting sosial, latar belakang budaya, latar belakang dan situasi politik tertentu. Dengan kata lain, untuk mengerti sebuah teks, perhatian pembaca harus difokuskan kepada konteks sejarah dari pada Alkitab itu sendiri.

Dalam hal ini, Archie tidak melepaskan diri dari penggunaan metode Historis-Kritis sebagai sarana untuk menafsirkan Alkitab. Yang mana metode ini bertujuan menguraikan sejarah dari sebuah teks. Meskipun dalam hal ini, para sarjana sendiri mengakui keterbatsan dari metode ini. Walaupun metode historis-kritis mensyaratkan suatu objektifitas yang nyata, yang dapat dikembalikan melalui metode ilmiah, dan tidak mempengaruhi hubungan yang begitu penting dengan diri pembaca sekarang ini.

Menurut Lee hermeneutika-hermeneutika modern dapat menunjukan kepada sekalian pembaca bahwa dalam mengartiakn teks pada masa lalu adalah sangat dipengaruhi oleh presuposisi-presuposisi dari diri pembaca sendiri yang sesuia dengan situasi pada masa sekarang. Seringkali dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda dari susunan waktu dalam teks mengakibatkan penterjemahan penterjemahan dan cara pandang terhadap Alkitab dari generasi yang berbeda tidak dapat di pisahkan dari konterks dimana sejarah itu terjadi.

Walaupun penterjemahanpenterjemahan Alkitab Kristen di Asia dengan sadar menghindari kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam konteks Asia, dalam hal ini mencoba untuk mengabaikan kebudayaan-kebudayaan agama dan tradisi yang ada terhadap penterjemahan tekstual dalam Alkitab sendiri. Iman kristen tidak akan pernah menjadi relevan terhadap kebutuhan-kebutuhan masyrakat di Asia: dan juga tidak memberikan kontibusi dalam memperkaya kehidupan keagamaan dari masyarakat Asia itu sendiri kalau tidak disesuikan dengan situasi atau kondisi dari lingkungan sosial di Asia.Masalalah yang sangat mendesak saat ini adalah bagaimana para sarjana Alkitab Asia perlu mengawali cara mencari dan menemukan prinsip-prinsip dan metode-metode penterjemahan Alkitab yang relevan dalam konteks Asia.

Bagian kedua dari artikel ini membahas mengenai Identitaas Kristiania Asia dalam Penterjemahan Temu-Lintas Teks. Jika kekristenan di Asia serius tentang kekristenan, dan meyakini budaya keagamaan telah membentuk pribadi mereka, mereka akan mengalami masalah yang serius dengan Identitas pribadi mereka. menurut Lee, Asia hidup dalam dua dunia, yaitu mewarisi dua kisah, memiliki dua teks, yaitu teks dunia cerita dan teks kekristenan dan budaya-budaya Asli pribumi.

Kehidupan Asia sebelum Iman kristen masuk ke dalam suatu pandangan digolongkan oleh nilai-nilai tradisi kebudayaan dan aturan-aturan. Pertermuan dengan kekristenan dihasilkan dalam suatu pribadi dan satu dunia. Seperti Iman Kristen yang menuntut suatu penerimaan secara eksklusif terhadap Injil akan pengorbanan terhadap warisan budaya dengan suatu kemerosotan prilaku terhadap semua budaya, peralihan-peralihan budaya tersebut menata bagian-bagian yang berbeda untuk memenuhi eksistensi dari dunia-dunia yang bertentangan.

Bagi orang Kristen di Asia, perjumpaan antar dua teks tersebut bukannya bebas memilih, bukan juga permainan intelektual dimana yang satu merasa hanya merupakan satu bagian dari yang lain. Hal tersebut merupakan pengalaman hidup atas penglihan ke dalam kekristenan yang telah diklaim merupakan suatu kebenaran lebih dari semua agama dari budaya “pagan” yang lain. Krisis Identitas perlu dikoreksi melalui pembacaan Temu-Lintas Teks, tujuan dari mencapai integritas diri sendiri, tetapi bukan untuk melakukan studi-studi perbandingan.

Kekurangan terhadap cara menempatkan identitas pribadi dan komitmen hidup telah memberikan satu kesempatan yang baik untuk membangun kehidupan yang dapat keluar dari keputusasaan untuk meraih harapan dan sukacita. Dan Lee menegaskan di sini bahwaTeks” yang dipakai bukan hanya mengacu pada bentuk tulisan, suatu bentuk keagamaan yang kuno, tradisi literer yang berupa dokumen-dokumen historis yang termaksud juga bentuk ynag tidak tertulis, seperti tradisi oral, situasi ekonomi politik, dan pengalaman hiudup yang menyangkut denganTeksitu.

Bagian terakhir dari artikel yang di tulis oleh Dr. Archie C.C. Lee membahas mengenai Implikasi dan Interpretasi Alkitabiah serta Ilmu pendidikan Alkitabiah. Pembahasannya menyangkut keberadaan Asia sebagai suatu dunia yang memiliki keberagaman Agama telah menciptakan para sarjana dan teolog biblika kepada kenyataan prulalistik kitab suci. Kenyataan tersebut memiliki implikasi yang besar sekali untuk hermeneutika dan pengajaran Biblika. Interpretasi Biblika yang sebenarnya menjadi hermeneutika yang berorientasi hanya kepada Alkitab semata. Dan metode hermeneutika diadobsi atau dikembangkan dalam terdisi keagamaan di Asia yang serba prulalistik.

IDE PENGARANG

Lee mencoba menuangkan idenya agar supaya bagaimana gereja-gereja khususnya umat Kristen di Asia mengintegrasikan diri secara berkeseimbangan ketika memahami pesan yang ingin di sampaikan lewat Alkitab dalam situasi prulalistik keagamaan serta kekayaan sosial-budaya-agama yang berada di benua Asia. Harapannya agar setiap pembaca akan mengerti pesan dalam Alkiab dengan cara menyimak serta cermat dan kritis teks-teks yang terdapat dalam Alkitab itu sendiri beserta dengan kekayaan simbol-simbol dan teks-teks sosio-budaya keagamaan di Asia

SARAN dan KRITIKAN

Artikel ini memang tidak mudah untuk dipelajari apalagi artikel ini belum diterjemahkan. Tetapi yang terpenting dalam hal ini bagaimana seorang penterjemah dapat memehami bahwa dalam penterjemahan Alkitab sendiri tidak dapat terlepas dari sosial, budaaya setempat. Seorang tidaklah mudah untuk men\mahami artikel ini,apalagi bagi orang yang tidak memiliki latarbelakang pengetahuan sosial-budaya akanlah sulit untuk memahaminya. Tetapi perlu diingat bahwa penulis sangat berkeinginan sekali dalam memperjuangkan suatu kebudayaan terhadap penterjemahan Alkitab itu sendiri sehingga makna dari pada Alkitab itu tetap relevan dengan kehidupan yang sangat beraneka ragam dalam benua Asia, tentunya Indonesia juga termaksud di dalamnya. Walaupun demikian saya berterima kasih kepada penulis yang tetap mencoba mempertahankan sistem kebudayaan tanpa menghilangkan keabsahan dari makna Alkitab yang ingin disampaikan oleh penulis Alkitab pada masa yang lampau..

Tidak ada komentar: