Karangan ini ditulis oleh J.B. Banawiratma. Latar belakang tulisan ini adalah melihat kehidupan orang
Istilah “teologi fungsional” mungkin akan menimbulkan pertanyaan, adakah teologi yang tidak fungsional. Menurut Banawiratma memang ada, itulah teologi yang tidak mendukung penghayatan iman kristiani, melainkan meracuni penghayatan Injil Yesus Kristus. penggunaan istilah “teologi fungsional” menunjukan suatu usaha berteologi yang secara eksplisit berpangkal pada pengalaman manusiawi dan pengalaman iman.
Tiga alasan mengapa teologi memerlukan usaha eksplisit untuk fungsionalisasi. Pertama, penghayatan iman kristiani yang mendasar pada Injil Yesus Kristus selalu terjadi pada situasi, lingkungan, konteks atau tata budaya tertentu dan konkret. Kedua, konteks konkret atau tata budaya tersebut bukanlah hanya “objek” yang disapa Injil, melainkan “subjek” yang aktif. Ketiga, menjadi beriman berarti dipanggil untuk menjadi ciptaan baru.
Menurut beliau, dalam proses berteologi terdapat kesulitan-kesulitan yang akan dialami. Berteologi berarti masuk dalam suatu proses refleksi tanpa satu rumus pasti. Dalam menangkap pengalaman umat tidak mudah, begitu pula merumuskan pengalaman tersebut secara tepat. Yang bagaimanapun juga, hubungan eksplisit antara refleksi teologis dan pengalaman hidup nyata memperlihatkan dengan jelas ciri fungsional kegiatan berteologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar