PENDAHULUAN
Buku penafsiran Alkitab dalam Gereja, yang judul aslinya adalah “The Interpretation of The Bible in The Church” yang merupakan dokumen dari Komisi Kitab Suci Kepausan mengenai penafsiran Alkitab dalam Gereja. Yang diterjemahkqan oleh V. Indra Sanjaya Pr. Yang diterbitkan oleh Kanisius. Pada tahun 2003. Buku ini di bagi dalam empat bagian besar. Tetapi yang utama yang akan di review adalah bagian pertama dan bagian kedua, yang dimana pembahasan dari dua bagian tersebut menyangkut metode dan pendekatan untuk penfsiran serta pertanyaan-pertanyaan sekitar Hermeneutika itu sendiri.
GARIS BESAR ISI BUKU
Bagian pertama buku ini di awali dengan pembahasan tentang Metode Historis-Kritis, yang mana Metode tersebut merupakan metode yang sangat diperlukan dalam studi ilmiah terhadap makna dari teks-teks yang kuno. Pinsip-prinsip dasar dari metode Historis-Kritis dalam bentuk klasik yaitu metode ini disebut Historis bukan karena metode ini diterapkan pada teks-teks kuno, tetapi dalam hal ini metode ini mencoba untuk menerangkan proses-proses Historis yang memunculkan teks-teks Biblis, dan juga sebagai suatu metode Analisis, berfungsi untuk mempelajari teks kuno lainnya dan memberi keterangan atas teks tersebut sebagai suatu ungkapan wacana Manusiawi.
Tujuan dari metode tersebut adalah menentukan khususnya dengan pendekatan diakronis, yaitu makna yang ingin diungkapkan oleh para pengarang dan editor para penulis, juga metode ini membuka jalan bagi pembaca sekarang akan makna teks alkitabiah yang dimiliki oleh kita sekarang ini.
Akan tetapi tidaklah dapat dikatakan bahwa ada metode ilmiah yang sungguh-sungguh memadai bagi studi Alkitabiah dalam seluruh kekayaannya.Walaupun dengan segala keabsahannya sebagai suatu metode, metode Histori-Kritis tidak dapat mengklaim diri sebagai metode yang paling memadai. Maka dari pada itu, dengan memanfaatkan kemajuan yang terjadi pada masa sekarang melalui studi linguistik dan sastra, eksegesa Alkitabiah terus menggunakan metode-metode baru seperti Analisis-Literer, khususnya analisis Retoris, Analisis-Narasi, dan Analisis-semiotik.
Analisis retoris sendiri bukanlah suatu metode yang baru, dimana analisis ini merupakan seni merangkai wacana untuk tujuan persusif. Analisis ini harus dilakukan secara kritis, karena eksegesa ilmiah merupakan suatu kegiatan yang harus taat pada tuntutan-tuntutan pikiran kritis.
Berkaitan dengan pendekatan Naratif, pendekatan ini membantu dalam membedakan metode-metode analisis, disatu sisinya refleksi teologis, dilain sisi berkaitan dengan kenyataannya sekarang.Dalam hal ini, Analisis Naratif memperlihatkan cara baru untuk memahami bagaimana sebuah teks bekerja. Manfaatnya sangat sesuai dengan pendekatan Naratif yang menampilkan banyak teks Alkitab. Selain pendekatan Naratif di atas terdapat juga pendekatan Semiotik yang juga terhitung diantara metode yang biasa diidentifikasikan sebagai metode Sinkronis, yaitu metode yang memusatkan pada studi teks alkitabiah sebagaimanaa teks yang ada sekarang ini
Alkitab adalah kumpulan kesaksian yang merupakan satu kesatuan yang menyeluruh dari satu tradisi besar. Akan tetapi, Alkitab bukanlah kumpulan teks-teks yang tidak berhubungan satu sama lain. Akibat dari presepsi bahwa metode Historis-Kritis kadang-kadang mengalami kesulitan besar untuk sampai kepada tingkatan yang sungguh-sungguh teologis maka dilakukanlah suatu pendekatan yang bersifat “kanonik” dimana pendekatan ini bertujuan untuk melaksanakan teologis dari penafsiran Alkitab secara lebih baik dengan berpangkal dari dalamkerangka Iman eksplisit. Alkitab sebagai suatu kesatuan yang utuh, juga dapat dilakukan pendekatan dengqan memanfaatkan tradisi penafsiran Yahudi, yang memberi kemungkinan untuk dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik khususnya, tentang septuaginta, yaitu yang menjadi bagian penting Alkitab orang Kristen. Oleh karena itu, pentingnya penyusunan secara kronologis sebelum membandingkan teks-teks yang ada.
Pendekatan melalui sejarah pengaruh teks, mendasari diri pada dua prinsip yaitu sebuah teks hanya menjadi sebuah karya sastra sejauhmana pembaca tersebut menjadikan teks tersebut menjadi hidup dengan memanfaatkannya bagi mereka. Dan pemanfaatan terhadap teks tersebut dapat terjadi pada level tertentu baik pada level individu maupun level komunitasdan dapat mengambil bentuk dalam berbagai bidang.
Pendekatan dengan menggunakan ilmu manusia, yang termaksud diantaranya pendekatan Sosiologis, yaitu metode yang mengakui bahwa tradisi alkitabiah membawa tanda-tanda dari lingkungan sosial-budaya ynag meneruskan tradisi tersebut. Pendekatan ini sangat membantu dalam memahami bagaimana bidang ekonomi, budaya, dan agama berfungsi atau berkaitan dalam dunia alkitabiah. Maka dari itu wujud ini sangat dibutuhkan bagi Kritik-Histporis.
Disamping pendekatan sosiologis di atas, juga terdapat penderkatan Antropologi-Budaya, di mana pendekatan ini tidak jauh berbeda dengan pendekatan Sosiologis. Kalau pendekatan Sosiologi mempelajari tentang aspek-aspek ekonomi dan institusional, maka pendekatan Antropologi lebih menperhatikan ke arah yang lebih luas dan dapat tercermin dalam bahasa, seni, dan semua yang berkaitan dengan etnografi. Selain itu juga dilakukan pendekatan secara Psikologis dan Psikoanalisis di mana kajian dari kedua pendekatan tersebut memberi kekayaan tertentu pada eksegesa alkitabiah, karena berkat stiudi terebut, teks-teks Alkitab dapat dipahami dengan lebih baik, terutama dalam hal pengalaman hidup dan norma-norma tingkah laku.
Tafsiran terhadap suatu teks selalu bergantung pada
Akhirnya setelah muncullahnya banyak penafsiran Alkitab dalam gereja, maka kemudian kaum Fundamental melakukan suatu pendekatan yang disebut sebagai pendekatan secara Fundamentalis, yang bertitik tolak dari prinsip bahwa Alkitab, sebagai sabda Allah yang diilhami oleh Roh Kudus dan bebas dari kesalahan, seharusnya dibaca dan ditafsirkan secara literal dalam semua detailnya. Berkaitan dengan Injil ,Fundamentalis tidak mempertimbangkan adanya perkembangan tradisi Injil, tetapi secara naïf mencampourkan tahap akhir dari tradisi dengan awalnya. Pendekatan Fundamentalius sangat berbahaya, karena menarik bagi orang-orang yang mencari jawaban yang siap pakai untuk masalah-masalah kehidupan mereka dalam Alkitab.
Bagian kedua buku ini mencoba membahas pertanyaan-pertanyaan sekitar dunia Hermeneutika. Yang pertama datangnya dari Hermeneutika Filsafat, di mana dari hermeneutika tersebut munculah prespektif modren yang merupakan akibat dari kesadaran akan kesenjangan budaya antara dunia abad pertama dan dunia abad ke-20, yang dipelopori oleh Bultmann. Menurutnya, apa kiranya yang menjadi kerangka pemikiran yang paling tepat untuk mendefinisikan jenis pertanyaan yang membuat kitab suci dapat dimengerti oleh orang-orang pada masa sekarang. Manfaatnya bagi teori eksegese adalah memungkinkan penggabungan metode-metode sastra dan kritik historis dalam suatu model penafsiran yang lebih luas. Selain itu, dalam dunia hermeneutik terdapat juga pertanyaan menyangkut makna dari kitab suci yang diilhami. Yang pertama, menyangkut makna literal. Apakah suatu teks hanya memiliki satu makna literal? Karena pada umumnya seperti itu; tetapi hal tersebut tidak bersifat mutlak karena dua sebab. Yang pertama, pada saat yang bersamaan seorang pengarang dapat memaksudkan lebih dari satu tingkat realitas. Yang kedua, sekalipun ungkapan manusia tampaknya hanya mempunyai satu makna, ispirasi ilahi dapat mengarahkan uangkapan itu sedemikian rupa sehingga menciptakan lebih dari satu makna. Hal yang kedua menyangkut dengan makna kitab suci yang diilhami yaitu makan spiritual. Seringkali makna spiritual disalahartikan sabagai penafsiran subjektif yang berasal dari imajinasi atau spekulasi intelektual. Tetapi sebenarnya makna spiritual merupakan hasil dari penempatan teks dalam hubungannya dengan dengan fakata-fakta yang sudah dikenal. Yang ketiga, yaitu makna yang lebih penuh. Istilah ini dirumuskan sebagai makna yang lebih dalam dari sebuah teks yang dimaksudkan oleh Alllah tetapi tidak diungkapkan secara jelas oleh pengarang manusia. Dan dalam penggunaannya terdapat “makna yang lebih penuh”. Melaluai hal ini, dapat terciptanya suatu konteks baru yang memunculkan kemungkinan-kemungkinan makna baru yang tersembunyi dalam konteks konteks asli sebuah teks.
IDE PENULIS
Penulis bertujuan bagaimana makna Alkitab dapat dikenal, yaitu makna kata-kata manusia dan sabda Allah bekarja bersama dalam singularitas peristiwa-peristiwa historis dan sekaligus keabadian dari sabda yang kekal yang selalu relevan pada tiap zaman. Tetapi yang dimaksud tidak hanya perkataan yang pada masa lalu saja, tetapi pada saat yang sama berasal dari Allah yang abadi dan yang membawa kita kepada keabadian tersebut. juga berguna untuk pertnyaan-pertanyaan penting tentang pemahaman tentang kitab suci dengan tepat.
ANALISA
Buku penafsiran Alkitab dalam gereja merupakan buku yang padat dalam membahas seputar masalh hermeneutika yang berkembang sampai saat ini, pembahasannya cukup sistematik tapi masih juga terdapat pengulangan-pengilangan yang terjadi antara topik yang dibahas. Mungkin penulis mempunyai suatu tujuan yaitu agar setiap kali membahas topik yang baru tidak pernah terlepas dari topik yang telah dibahas karena merupakan suatui kesatuan, runtyut dalm dunia hermeneutuka sampai saat ini.
Dalam membaca buku ini, sangant sulit untuk dipahami jika perhatian dan konsentrasi pembaca tidak difokuskan kepada tulisan tersebut. Juga dalam membaca buku ini setiadk-tidaknya harus disiapkan sebuah kamus teologia maupun kamus bahasa innggris pembaca yang bahasa inngrisnya masih minim. Selain itu juga buku ini kurang cocok bagi orang yang awam, karena istilah-istilah yang dipakai masih belum disederhanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar