Kamis, 29 Mei 2008

Menuju Teologi Kontekstual di Indonesia

Karangan ini merupakan tulisan dari Alm. Eka Darmaputera. Latar belakang tulisan ini diawali oleh kesadarannya bahwa pemimpin-pemimpin jemaat dari gereja-gereja “arus tengah” (main-stream) di Indonesia, yang dewasa ini berada dalam keadaan cemas dan resah dan tidak sedikit yang mulai kehilangan percaya diri. Hal tersebut dikarenakan dalam dasawarsa terakhir ini, amat terasa ada semacam “arus balik” yang kian lama kian menguat, mendalam dan meluas. Mula-mula dalam bentuk gerakan Pantekosta Baru, atau yang lebih dikenal dengan gerakan Karismatik. Dan kemudian, gerakan-gerakan yang menamakan diri “Injili” yang dengan sistematis, konsisten dan militan mempropagandakan konservatisme serta fundamentalisme.

Gejala-gejala tersebut menurut beliau haruslah dilihat sebagai sesuatu yang serius, terutama karena gejala tersebut membuktikan bahwa betapa rapuhnya dan betapa tipisnya penghayatan serta pemahaman teologis warga jemaat pada umumnya. Dan itu menurutnya adalah tidak lain disebabkan karena gagalnya pembinaan gereja selama ini.

Hal ini perlu adanya suatu kesadaran bahwa warga jemaat itu mempunyai kebutuhan. Mereka mungkin tidak dapat merumuskan, tetapi mereka merasakannya. Akan kebutuhan itu rupanya gereja tidak terlalu tanggap, sehingga mau tidak mau warga gereja mencari suatu wadah yang dapat memenuhi kebutuhan mereka tersebut. Kebutuhan mereka tersebut adalah mencari suatu pegangan yang jelas untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari, kebutuhan mencari suatu jawaban yang jelas bagi pertanyaan praktis mereka sehari-hari, kebutuhan dalam mencari petunjuk yang jelas mengenai apa yang harus mereka lakukan dalam hidup mereka sehari-hari. Juga sebagai suatu suasana yang membantu menguatkan mereka dalam pergumulan hidup sehari-hari.

Gerakan Pentakosta Baru atau Kharismatik dan fundamentalisme memang secara gamblang menunjukkan kemiskinan spiritualitas dalam kehidupan jemaat-jemaat pada umumnya. Tetapi menurut beliau hal ini bukan merupakan alternatif terbaik terhadap spiritualitas yang didambakan dan dibutuhkan. Mengapa ia mengatakan demikian karena ada alasan utama, yaitu kedua gerakan tersebut membuat orang berorientasi pada diri sendiri. Gerakan pertama cenderung membuat orang asik dengan kenikmatan rohani diri sendiri, sedangkan yang satunya lagi cenderung membuat orang menjadi picik karena terlampau mengagungkan kebenaran dan keunggulan kelompok sendiri.

Alternatif yang beliau tawarkan dalam memenuhi kebutuhan jemaat masa kini adalah dengan “teologi kontekstual” yang dimaksudkan oleh beliau teologi kontekstual ada teologi itu sendiri. Artinya, teologi hanya dapat disebut sebagai teologi apabila ia benar-benar kontekstual. Dan untuk mengukur keabsahan dari teologi itu sendiri menurut beliau terdapat dua patron yaitu pertama “ortodoksi” dan kedua “relevan”. Ortodoksi adalah menilai apakah hasil pergumulan masih dapat disebut “kristen”. Relevan adalah untuk menilai apakah hasil pergumulan itu cukup “fungsional” bagi konteks Indonesia saat ini dan juga bagi masa yang akan datang.


Tidak ada komentar: