Kamis, 29 Mei 2008

MENCARI CORAK ASLI KEBUDAYAAN KRISTEN DI INDONESIA

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Suatu fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini dikarenakan adanya kecenderungan orang Kristen berlaku seperti kebarat-baratan sedangkan Islam manjadi kearab-araban. Apakah tidak ada suatu budaya Indonesia yang khas? Sehingga kita harus mengikutinya alur budaya orang lain?[1], hal inilah yang menyebabkan pentingnya mencari identitas diri dan pentingnya menjadi diri sendiri sangat diperlukan, semuanya ini harus timbul atas dasar rasa nasionalisme[2] yang tinggi. Oleh beberapa orang mulai didengungkan kembali.[3] Seperti apa yang dikatakan oleh pendiri Negara kita Ir. Soekarno dalam pidatonya mengatakan bahwa “Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri.” Mengutip apa yang menjadi pendahuluan dari William Fore dalam bukunya mengatakan bahwa upaya mencari tahu makna merupakan inti kehidupan manusia. Lanjut katanya hal tersebut tidak cukup hanya dengan bekerja dan membina suatu keluarga. Kita sungguh-sungguh perlu memastikan bahwa usaha-usaha kita layak-bahwa hidup kita mempunyai makna.[4]

Dalam kesempatan ini penulis ingin membahas tentang “Arti Kebudayaan Kristen Serta Mencari Corak Asli Budaya Kristen IndonesiaUntuk itu diharapkan setelah membuat makalah ini dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang konsep budaya Kristen serta mencari apa corak budaya Kristen di Indonesia.

BAB II

ARTI KEBUDAYAAN KRISTEN

Beberapa Definisi Kebudayaan

Sebelum lebih jauh membahas soal kebudayaan Kristen, terlebih dahulu pentingnya mendefinisikan arti kebudayaan itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan Budaya adalah 1) pikiran; akal budi. 2) adat istiadat: 3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradap, maju) 4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Sedangkan kebudayaan didefinisikan 1) hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat-istiadat; 2) keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalaman dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.[5]

Kroeber dan Kluckon pernah mengumpulkan sekitar 160 definisi kebudayaan pada tahun 60-an di antaranya dapat dikemukakan sebagai berikut [6]:

1. Kebudayaan merupakan sistem terintegrasi dari ide-ide, perasaan, nilai-nilai, assosiasi, pola-pola tingkah laku yang dipelajari dan hasil karya yang khas bagi suatu masyarakat (Hiebert, Cultural Anthropology, 1983:25)

2. Kebudayaan merupakan suatu pandangan hidup (a way of life); suatu rencana total untuk hidup (a total plan for living); terorganisasi secara fungsional ke dalam suatu sistem (functionally organized into a system); didapat melalui belajar belajar (acquired though learning); suatu pandangan hidup suatu kelompok masyarakat bukan dari seseorang (Luzbetak, The Church And Cultures, 1970:60)

3. Kebudayaan adalah keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang diatur oleh tata kelakuan, yang harus didapatnya dengan belajar, dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat (Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, 1974:79)

Selanjutnya dapat juga dilihat beberapa pengertian kebudayaan yang ditulis oleh beberapa pakar dalam ilmu Antropologi diantaranya Suwardi Endraswara mengatakan bahwa “Budaya adalah “sesuatu” yang hidup, berkembang, dan bergerak menuju titik tertentu.”[7] Pengertian lain yang dikemukakan oleh Dr. Sumarsono & Paina Partna mendefinisikan “Kebudayaan dalam arti luas bisa mencakup hal-hal seperti kebiasaan, adat, hukum, nilai, lembaga, sosial, religi, teknologi, bahasa.”[8]

Dari beberapa definisi kebudayaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan memiliki dimensi material dan non-material. Karena menyangkut manusia itu sendiri, perlengkapan hidupnya, sistem kemasyarakatan, serta religi[9] Ada pula aspek kognitif (pemikiran, ide-ide, dan sistem pengetahuan),[10] aspek afektif (nilai seni dan kepribadian suku) dan aspek evaluatif (menyangkut masalah tata nilai dan sikap mental, adat istiadat). Semua unsur di atas saling berkaitan menjadi suatu sistem yang terintegrasi.[11]

Selain itu setiap kebudayaan adalah khas bagi masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Ini terjadi karena kebudayaan itu diperoleh dan diturunkan ke generasi selanjutnya lewaat belajar atau proses sosialisasi.[12]

Definisi Kebudayaan Kristen

Setelah memperoleh definisi kebudayana secara umum, maka dapat diperoleh definisi kebudayaan Kristen secara khusus. Jika definisi kebudayaan menurut Paul Hiebert adalah sistem terintegrasi dari ide-ide, perasaan, nilai-nilai, assosiasi, pola-pola tingkah laku yang dipelajari dan hasil karya yang khas bagi suatu masyarakat (Hiebert, Cultural Anthropology, 1983:25), maka dapat disimpulkan kebudayaan Kristen adalah sistem terintegrasi dari ide-ide, perasaan, nilai-nilai yang terkandung dalam pokok iman kristiani, assosiasi atau pergaulan, pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari Alkitab sebagai Firman Allah yang diilhamkan Roh Kudus pada manusia, yang menjadi kekhasan bagi kekristenan.

Orang-orang Kristen merupakan bagian dari tradisi Kristen dan bahwa tradisi itu berasal dari Kitab Suci (Alkitab). Alkitab yang kita percaya sebagai Firman Allah selalu ditafsirkan dan dipahami dalam kebudayaan-kebudayaan Kristen pada waktu dan tempat yang berbeda,[13]oleh karenanya masalah hidup manusia tidak diluar situasi-situasi lingkungan dimana manusia ditempatkan Allah. Untuk itulah tugas kita adalah mengidentifikasi penyebab-penyebab masalah dan mengubah apa yang salah.

Contoh-contoh budaya Kristen yang bisa dilihat sekarang ini[14] adalah Doktrin Allah, Alkitab sebagai Firman Allah, Malaikat, Iblis, Manusia, Dosa, Yesus Kristus, Keselamatan, Roh Kudus, Gereja, Akhir Zaman dan lain sebagainya[15]

Budaya Kristen juga menyangkut sakramen-sakramen dalam gereja yang masih dijalankan oleh gereja-gereja,[16] karena merupakan nilai-nilai yang diberikan oleh Yesus. Selain itu juga masih banyak budaya Kristen yang sangat melekat dalam diri orang Kristen yaitu berkumpul dan berdoa bersama[17] dan lain sebagainya.

BAB III

CORAK BUDAYA KRISTEN DI INDONESIA

Seperti yang dijelaskan pada pendahuluan tulisan ini, bahwa yang menjadi permasalahannya adalah apa corak asli budaya Kristen di Indonesia? Agar tidak dikatakan sebagai orang Kristen menjadi kebarat-baratan.

Sebelum agama Kristen mulai masuk ke Indonesia, agama negeri ini sudah melalui sejarah yang panjang dan berbeelit-belit. Agama Indonesia asli dibawa –serta oleh suku-suku yang pada zaman dahulu kala memasuki Indonesia. Yang biasa disebut “Agama Suku”.[18] Sebenarnya, masing-masing suku mempunyai agamanya sendiri.

Bagaimana halnya dengan orang-orang Kristen di Indonesia? Memang tidak dapat disangkal bahwa kekristenan yang ada sekarang ini adalah merupakan produk yang lahir dari budaya barat serta pencampuran antara kebudayaan yang ada di Indonesia sendiri. Untuk itulah bagaimana mencari corak budaya Kristen di Indonesia?

Martin Lukito Sinaga dalam tulisannya “Mencari Corak Lokal Kekristen di Indonesia[19] Paragraf pertama dalam tulisannya memuat apakah cara yang paling baik untuk menjelaskan dan, jika mungkin merefleksikan secara teologis nasib Kekristenan yang masih “muda” di Indonesia yang tumbuh di tanah agama-agama suku (“animisme”)? Dan, ketika kita mengetahui bahwa sejarah Kekristenan di Indonesia merupakan bagian dan rangkaian kolonisasi Barat yang menghasilkan pandangan negatif terhadap Islam, identitas macam apakah yang dapat diharapkan dari kekristenan seperti itu?[20]

Gambaran umum komunitas Kristen yang tuimbuh di ruang lokal/suku itu cukup buram.[21] Perlu diperjelas apa yang dimaksud dengan corak lokal atau agama suku yang dimaksud agar diperoleh pengertian yang jelas tentang komunitas Kristen yang ada di Indonesia. Dalam memahami hal ini Martin Lukito membagi dalam dua tingkatan[22] Pertama, suatu agama yang sangat prakmatik dan mengandung makna magis, ditandai dengan ritus-ritus penyembuhan, membersihkan diri, memberkati, dan perolehan sebuah fetish (jimat atau benda keramat) untuk ekselamatan dan keberuntungan material. Kedua, corak yang juga nampak dalam sistem yang rumit; sesuatu seperti monisme[23] yang di dalamnya keselarasan masyarakat menjadi taruhannya, sehingga memiliki struktur hirarki kekuasaan yang ruwet.



[1] Studi Teologi Agama-agama oleh Matthew Tampi, ini merupakan pertanyaan yang dilontarkannya.

[2] Paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hal 774.

[3] Contohnya para Teolog Kristen Indonesia yang mencoba mengkontekstualisasikan Injil kedalam budaya Asia khususnya Indonesia beberapa diantaranya yaitu Eka Darmaputera (Menuju Teologi yang Kontekstual), H.L. Sapulete (Mencari Mata Rantai yang Hilang), A.A Yewangoe (Menurut Kamu Siapakah Aku?) dan masih banyak lagi teolog-teolog Kristen lainnya dan juga beberapa dari orang Muslim sendiri, yang mencoba mencari suatu pendekatan untuk mencari suatu corak yag khas bagi orang Indonesia sendiri.

[4] William Fore, Para Pembuat Mitos Injil, Kebudayaan dan Media (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2002), hlm. 1.

[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hal 169-170.

[6] Dikutip dari majalah “Sahabat Gembala” berjudul Kebudayaan dan Misi (Mei, 1986) hlm 4-10, 36-37. Ditulis oleh Drs. B.S. Sidjabat, M.Th, dan dikutip ke dalam modul kuliah Kontekstualisasi oleh Jaya Muller, hal. 1.

[7] S. Endraswara “Metodologi Penelitian Kebudayaan” (1st Edit), Gadja Mada Univ. Press, Yogyakarta, 2003, hal.1 yang dikutip oleh Matthew T. dalam silabus perkuliahan Misi Antropologi pada Institut Teologi Indonesia (INTI), hal.26.

[8] Sumarsono & P.Paina hal.13, yang dikutip oleh Matthew T. dalam silabus perkuliahan Misi Antropologi pada Institut Teologi Indonesia (INTI), hal.26.

[9] Yang semuanya itu merupakan keseluruhan unsur yang terdapat dalam suatu kebudayaan (Koentjaraningrat)

[10] Lih. pengertian kebudayaan, (P. Hiebert).

[11] Jaya Muller, Silabus Kontekstualisasi, hal.1.

[12] Ibid, hal. 1.

[13] Contohnya Surat Paulus kepada Jemaat-jemaat di Roma, Korintus, Galatia, serta penatua-penatua seperti Timotius dan surat lainnya.

[14] Tentunya tidak terlepas dari Budaya yang berlaku di Israel serta hasil interpretasi dari Bapa-bapa Gereja serta teolog pendahulu kita.

[15] Lih. Buku Sistematika Teologi

[16] Saya mencontohkan sakramen yang dilakukan oleh Gereja Proterstan yaitu Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus serta ada Pernikahan Kudus.

[17] Hal ini pun telah ada pada waktu terbetuknya gereja mula-mula yang dimulai dari Yerusalem (Kisah para Rasul 2).

[18] Th. van den End, Ragi Carita I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hal 13.

[19] Tulisan ini adalah terjemahan dan perluasan dari makalah berjudul “An Identity at the Crossroad: Indonesian Christianity in the mids of Local Spirituality”, disampaikan pada Konsultasi Teologi (bertemakan Christian and Religious Plurality in Historical and Global Perspective) di Fuller Theological Seminary, Pesadena, Los Angeles (Amerika Serikat),. 25-27 April 2003. Penterjemah naskah ini adalah Naomi Arijanto dan Martin L. Sinaga. Dikuti dari Jurnal Proklamasi hal.

[20] Martin L. Sinaga, Mencari Corak Lokal Kekristenan di Indonesia, (STT Jakarta: Jurnal Penuntun vol. ), hal 22.

[21] Ibid. hal 23. Buram yang dimaksudkan oleh beliau adalah terutama karena wajah kekerasanya. Beliau memcontohkan Kalimantan, begitu banyak kekerasan yang terjadi di antara orang-orang Dayak (yang juga diantaranya beragama Kristen) dan orang-orang Islam Madura. Banyak orang Dayak telah menjadi Kristen, dan hanya menyisakan sedikit yang masih memelihara ritual nenek moyang (agama Keharingan) Melihat hal ini, gereja di Kalimantan terkejut, dan pada umumnya terdiam.

[22] Ibid, hal 25.

[23] Pandangan bahwa semesta itu merupakan satu satuan tunggal; pandangan bahwa materi dan alam pikiran adalah satu. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2003), hal. 752, cf Segala sesuatu yang realita adalah satu. Matthew T. Silabus Mata Kuliah Teeologi Agam-agama,,hal. 25 (13 Sept 2006). Monism, the belief that all reality is one and any impression that one sphere of being can be distinguished from another is unreal, or illusion.

2 komentar:

Berjuang ok mengatakan...

GOD AND CULTURE adalah salah satu buku yang perlu anda tambahkan sebagai referensi. thanks

Berjuang ok mengatakan...

dikala cinta berkata jawaban tidak ada. mengapakah cinta harus peduli dengan kebudayaan?